Abstrak – Membaca Bad Ass Sebagai Manifesto Seorang Antihero – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Bagus Purwoadi
Institut Kesenian Jakarta
yanginibagus@gmail.com

Abstrak

Salah satu video musik yang ditayang di media sosial dan menjadi topik pembicaraan juga menjadi obyek cemoohan adalah video musik Badass dari penyanyi Awkarin dengan visual yang kontroversial. Bad Ass, baik lirik maupun video klipnya, bisa dibaca sebagai sebuah manifesto dari seorang Antihero, abad milenia. Bertolak dari atribut dan tanda-tanda yang digunakan, terlihat kesamaan antara sosok awkarin dalam badass, Atribut pejuang Zapatista, dan perempuan-perempuan bertopeng ski mask dalam video porno yang banyak beredar dengan kata kode “femdom.”  Penggunaan topeng di semua sosok menjadi titik tolak analisis. Tokoh Awkarin dilihat sebagai Idol antihero yang menggunakan referensi-referensi untuk mengkonstruksi citra dirinya. Masyarakat di media sosial menjadi voyeurist dalam kaitannya dengan sosok Awkarin tersebut. BadAss menjadi cerminan generasi milenia yang menyerap segala sesuatu yang ditolak oleh kaum konservatif sebagai Indonesia, sementara menjadi Indonesia itu sendiri adalah suatu isu budaya yang masih akan terus bergulir.

Kata kunci:  Awkarin, ski mask, idol, video musik

 

Abstract 

Awkarin’s Bad Ass music video is widely aired on social media. This particular video has been widely discussed and at the same time being booed due to its visual controversy. Bad Ass video, both the lyrics and the video clip can be read as a manifesto of an antihero of the millennial. Based on the attributes and signs being used, we can see some similarities between the character of Awkarin in Badass, the Zapatistas fighters, and the women wearing a ski mask in a porn video with a code name “femdom.” The use of masks by all the characters is the starting point of the analysis. The character of Awkarin is regarded as an antihero Idol who uses references to construct his image. People in social media have become a sort of voyeur in relation to the character of Awkarin. Bad Ass becomes a reflection of millennium generation who absorb everything that was rejected by the conservatives as Indonesia while being Indonesia itself is a cultural issue that will continue to take place.

Keywords: Awkarin, ski mask, idol, videomusic

Abstrak – Kajian Naratologi pada Tata Pameran Tetap Museum Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta Studi kasus Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh Henny Hidajat
DKV Universitas Bunda Mulia
henny.hi@gmail.com

Abstrak

Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian untuk menganalisa  aspek narasi seperti tercermin pada tata pameran tetap dari museum perjuangan kemerdekaan Indonesia di kota Jakarta, dengan studi kasus Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Observasi dilakukan terhadap fisik tata pamer serta melibatkan responden, terutama berkaitan dengan penyampaian cerita mengenai terjadinya peristiwa sejarah. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap narasumber, serta kajian teori dari berbagai referensi. Pendekatan naratologi dilakukan dengan penjabaran narasi penceritaan yang terdiri dari alur, penokohan, latar tempat dan waktu, serta pesan nilai perjuangan yang dapat dipahami oleh pengunjung, yang diwakili responden.

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tata pamer museum, terutama museum sejarah, membutuhkan penegasan pada bagian awal, klimaks dan akhir, serta tokoh tertentu, agar pengunjung dapat menyadari jalan cerita dan pesan perjuangannya. Dengan demikian, peristiwa sejarah dapat dipahami secara menyeluruh dan memberikan kesan mendalam kepada pengunjung, serta tata pamernya mampu menampilkan daya tarik visual hingga pengunjung tetap antusias dari awal sampai selesai.

Kata Kunci : Museum, Pameran, Storyline, Sejarah, Pengunjung


Abstract

Naratology studies in the permanent exhibitions of battle for independency museums in jakarta case studies Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi

This article is created based on research to analize narative aspect as reflected on the permanent exhibition design of museums depicting Indonesian movement for independence, with Museum Sumpah Pemuda and Museum Perumusan Naskah Proklamasi as case study.

Observation were done to the displays of the exhibition area, involving respondents, especially relating to the storyline about the historical events. Interviews to the museum expert and staff were also done to complete the source of the data, beside  theoretical references. Narratology approach was applied by elaboration of the narrative storytelling, which is consist of plot, characters, time and place background, values of the story that can be understood by visitors, represented by respondents.

Based on the research can be conclude that museums exhibition, especially historical museums, needs emphasize in the beginning, climax and at the end of the story, also certain characters. Therefore, visitors may comprehend the storyline and the values of the story. Hopefully It also will give  deep impression to visitors, and to create visual interest, so that the visitors will keep enthusiastic until the last display.

Keywords : Museum, Exhibition, Storyline, History, Visitors


Artikel | pdf

Abstrak – Perupa: Nashar – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Gesyada Annisa Namora Siregar

gesyanamora@gmail.com | Jakarta 320C – Ruang Rupa

Abstrak

Tiga-¬Non: non-¬prakonsepsi, non¬-teknik akademis, dan non-¬estetik akademis adalah gagasan yang dikemukakan seniman dan pemikir seni rupa Indonesia, Nashar, pada tahun 1970-an. Tulisan ini merupakan rangkuman proses untuk memahami perjalanan Nashar menemukan Tiga-Non, pengaruh kawan dan gurunya, Oesman Effendi dan Affandi dalam sikap kepelukisannya, apa yang dimaksudkan Nashar dengan Tiga-Non-nya, dan terakhir melihat bagaimana Tiga-¬Non dipraktikkan oleh Nashar dalam karya-karyanya.
Kata Kunci: Tiga-Non, non-¬prakonsepsi, non¬-teknik akademis, non-¬estetik akademis

Kata Kunci: Tiga-Non, non-prakonsepsi, non-teknik akademis, non-estetik akademis

 

Abstract

Non-preconception, non-academic technique, and non-academic esthetic are the three concepts presented by Nashar, one of the Indonesian fine arts artists and thinkers, in 1970s. This article is a summary covering the process of understanding Nashar’s journey to find his Three-Non, the influence of a friend cum teachers, Oesman Effendi and Affandi in his attitude to his painting career, what he meant with his Three-Non, and lastly, to see how the Three-Non was operated by Nashar in his works. 

Keywords: Three-Non, Non-preconception, non-academic technique, non-academic esthetics

 

 

Abstrak – Pemaknaan Garuda Pancasila melalui T- Shirt “Hiduplah Indonesia Raya” – Jurnal Seni Rupa Warna Maret 2017

Oleh: Rasuardie
ardie13@gmail.com | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak

Kebudayaan Populer sangat dinamis sehingga mampu memberikan anak muda ruang untuk berekspresi dan berapresiasi tentang hal-hal baru, tak terkecuali dalam memproduksi identitas, termasuk di dalamnya memproduksi identitas nasionalismenya. Garuda Pancasila sebagai lambang negara yang dilindungi oleh undang-undang dan aturan pemerintah dipertarungkan dengan ide-ide anak muda yang butuh mengekspresikan identitas nasionalismenya. Garuda Pancasila dimaknai ulang sesuai dengan kebutuhan mereka akan identitas nasionalisme melalui tema-tema kebudayaan populer anak muda. Makna baru Garuda Pancasila ini mungkin beredar di sekitar dunia mereka saja tetapi tidak menutup kemungkinan bisa diterima dan diapresiasi secara baik oleh masyarakat luas. Penelitian yang dilakukan melalui metode kualitatif deskriptif dengan obyek penelitian adalah t-shirt yang diproduksi oleh kolektif “Hiduplah Indonesia Raya”, sebuah kolektif anak muda yang bergerak dari kecintaannya terhadap Indonesia yang kemudian berani memproduksi identitas ke-Indonesiaan-nya melalui pemaknaan baru terhadap Garuda Pancasila melalui media t-shirt bergrafis. Penelitian ini bermaksud menguraikan ide-ide yang melatarbelakangi anak muda Indonesia dalam memproduksi identitas keIndonesiaannya melalui pemaknaan ulang Garuda Pancasila dan upaya yang dilakukan oleh mereka dalam mendistribusikan ‘ide’ identitas Indonesia kontemporer untuk tetap menjaga rasa dan jiwa nasionalisme dikalangan mereka sendiri juga masyarakat di sekitar mereka. Penelitian ini menemukan bahwa anak muda Indonesia dengan semangat kecintaan akan tanah air dan kebutuhannya akan identitas terkini melalui media popular t-shirt mampu menjadi sebuah media ekspresi yang menyebar dan diterima secara positif bahkan didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Kata kunci: Anak muda, Garuda Pancasila, identitas, kebudayaan populer, T-shirt

Abstract

Popular culture is so dynamic that it has the ability to provide space for the youths to show their expression and appreciation on new things, including in producing identity, i.e. identity of their nationalism. Garuda Pancasila as the state’s symbol protected by the law and government regulations is challenged by the ideas coming from the youths who need to express their identity of nationalism. Garuda Pancasila is redefined according to their needs on their identity of nationalism through the themes of the popular culture of the youths. New meaning of Garuda Pancasila is probably only known among the youths and their world but it has actually the possibility to be well accepted and appreciated by wider community.
This research uses descriptive qualitative method with t-shirt that is produced by a community named “Hiduplah Indonesia Raya”, a youth community that is moved by their love for Indonesia. This community is courageously enough to produce their Indonesian identity by means of giving a new meaning to Garuda Pancasila in t-shirts with graphic designs. This research is to break down ideas that have moved the youths to produce their Indonesian identity through redefinition of Garuda Pancasila and their efforts in spreading the idea of contemporary Indonesian identity to maintain the sense and spirit of nationalism among the youths themselves along with those surrounding them.
This research reveals that Indonesian youths with their love for their country and their need of an updated identity using popular media such as t-shirt are able to turn t-shirt into a medium of expression that positively accepted and even supported by the surroundings.

Keywords: youths, Garuda Pancasila, identity, popular culture, T-shirt

Abstrak – Menatap Iklan Reebok “Easytone – Reetone” – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ 2017

Oleh Indah Tjahjawulan
indahtja@gmail.com | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak

Iklan adalah sebuah objek, dan kita adalah subjek yang menatap kepada objek tersebut.  Namun, “menatap” bukanlah sekadar menatap karena pada saat “menatap” iklan, ada sebuah medan tatapan yang berhubungan dengan kode penyampaian iklan itu sendiri yang mempunyai beberapa tingkatan (level).  Tulisan ini membahas tentang level  medan tatapan dalam iklan dengan contoh kasus iklan Rebook seri Easytone dan Reetone. Dari pembacaan iklan tersebut ditemukan bahwa level pertama “menatap” adalah melihat realita, yaitu subjek hanya melihat imaji (gambar) yang ada pada iklan tersebut. Level kedua adalah melihat apa yang direpresentasikan oleh semua realita tersebut. Siapa saja yang melihat iklan tersebut, dengan bebas dapat menerjemahkan sesuai intepretasi masing-masing. Sedangkan level ketiga berkaitan dengan kekuasaan atau ideologi tertentu yang melatarbelakangi realita dan representasi tersebut. Pada akhirnya “menatap” iklan dapat berperan lebih jauh dari sekedar dapat terpengaruh oleh rayuan untuk membeli produk yang diiklankan, tetapi  juga  membentuk abnormalitas seksual di kalangan wanita untuk menikmati sensualitas dan pamer keindahan tubuh yang palsu hasil konstruksi media.

Kata Kunci: iklan, medan tatapan, obyek , subyek.

Abstract

Advertisement is an object and we are the subjects who look at the object. However, “to gaze at” doesn’t just mean to look at. When we “gaze at” the advertisement, there is a depth of field relating to the code of delivering the advertisement that has various levels. This article discusses the level of depth of field in the advertisement of Rebook of Easytone and Reetone series. Based on the reading of the advertisement, it is revealed that the first level of “to look at” is to gaze at the reality, which is the subject only look at the image (picture) presented in the advertisement. The second level is to look at what is represented by the whole reality. Whoever looks at the advertisement can freely translate it according to their respective interpretation. For the third level, it is related to the power or particular ideology serving as the background of the reality and the representation. Ultimately “to gaze at” an advertisement can play a further role and not just merely an influence caused by a persuasion to buy the product being advertised, but to create a sexual abnormality among women to enjoy sensuality and the exhibition of the beauty of fake body as the result of a media construction.

Keywords: advertorial, gaze, object , subject

Abstrak – Proses Kreatif Konsep Penciptaan Bentuk (Studi Kasus: Kemben, Pakaian Adat Perempuan Jawa, Penari Jawa) – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Lucky Wijayanti
luckyblueandwhite@yahoo.co.id | Institut Seni Yogyakarta

Setiawan Sabana
setiawansabana@yahoo.com | Institut Teknologi Bandung

 

Abstrak

Proses penciptaan seni terbentuk dari hubungan antara gagasan penciptaan dengan konsep berkarya yang dilakukan oleh se­tiap seniman dengan cara pandang yang berbeda. Dari penelitian yang dilakukan melalui metode observasi terhadap kegiatan para perempuan yang bekerja sebagai pembuat batik, penari, penganyam, dan penenun di wilayah pulau Jawa, seperti: Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta, dapat dirumuskan konsep penciptaan bentuk (karya) yang mencakup tiga aspek pokok, yaitu: 1) Tematik, konsep subject matter, dalam bidang seni visual, baik itu tema yang bersifat religius, sosial, urban dan lain sebagainya materi subyeknya selalu berubah sesuai dengan maksud dari seniman untuk mengkomunikasikan sesuatu pengalaman yang spesifik melalui karya baru atau representasi yang abstrak; 2) Visual, konsep proses kreatif dalam perwujudan karya yang divisualkan melalui figur-figur sebagai representasi seni rupa, misalnya melalui media film dokumenter dan foto; 3) Media, konsep eksplorasi media dan teknik untuk mewujudan karya, dengan menggabungkan material temuan (found object) yang berasal dari lokasi penelitian dengan media lainnya yang dapat memperkaya suatu karya dan dapat mewakili visual setempat.

Kata kunci : penciptaan, seni, subject matter, bentuk.

Abstract

The art creation process is constructed by the relation between ideas and the concept of creation of artists based on different point of view. From the research that uses observation method and focuses on the activities of the working women as batik makers, dancers, and weavers in areas in Java such as Cirebon, Pekalongan, Solo and Yogyakarta, it can be formulated one concept of creation that involves three aspects which are: 1) thematic, the concept of subject matter, in visual art, for themes like religious, social, urban matter, the materials of the subjects always change according to the purpose of the artists in communicating a specific experience through a new piece of work or an abstract representation; 2) Visual, the concept of creative process in the manifestation of work which is visualized using figures as representation of fine art, for example by means of documentary film and photos; 3) Media, the concept of exploration of media and the technique to materialize art works, by combining the materials of the objects found in the research locations with other media that can enrich an art work and can represent local visual.
Keywords : creation, art, subject matter, form.

Abstrak – Studi Skema Warna Berdasarkan Lokal Konten Budaya Kota – Jurnal Seni Rupa Warna 2017

Oleh:

Jonata Witabora
jowitabora@binus.edu I Universitas Pelita Harapan

Kadek Satria Adidharma
satria23@gmail.com I Universitas Bina Nusantara

Meilani
meilani.dkv@binus.edu I Universitas Bina Nusantara

Anastasia Ari Respati
tasyaari@gmail.com I Universitas Bina Nusantara

 

Abstrak

Desain Komunikasi Visual merupakan ilmu yang terus bertumbuh. Ia bergeliat dan berinteraksi dengan disiplin lain untuk merespons zaman yang terus berubah, yang kemudian memberi bentuk baru. Kebaruan menjadi sesuatu yang tak terhindari. Ia telah menjadi bagian dari globalisasi yang tak terbendung. Hal ini perlu disikapi dengan cermat, agar ilmu tersebut tidak memangkas budaya yang sudah ada. Ia perlu diseimbangi agar menjadi kaya dan tumbuh berkembang bersama dengan budaya yang sudah ada. Kebudayaan tidak lagi hanya diwakili oleh tradisi atau seni-seni klasik. Agar ia dapat terus hidup, ia harus berubah, membentuk pemaknaan baru yang segar dalam rangkaian budaya lokal sebagai kantong- kantong kecil yang pada akhirnya melestarikan dan memperkuat karakter budaya itu sendiri yang lekang oleh zaman. Penelitian ini diharapkan mampu menyumbang keilmuan baru dalam bidang pembelajaran warna yang terkait dengan kekuatan budaya lokal, yang membangun keilmuan desain itu sendiri sehingga pada akhirnya, dalam jangka waktu yang panjang diharapkan mendorong terbentuknya artefak-artefak desain yang memiliki karakter dan ciri kebudayaan yang kuat.

Kata kunci: Warna, Budaya Lokal, Desain

 

Abstract

Visual Communication Design is a growing discipline. It keeps on working and interacting with other discipline in order to respond the ever-changing era and it finally create a new form. Novelty has become something unavoidable. It has become part of the unstoppable globalization. This needs to be addressed cautiously so that this discipline will not put the existing culture at risk. Culture is not only represented by tradition or classical arts. In order to survive, it needs to change, to form a fresh, new meaning in the framework of local culture as small enclaves that finally will preserve and strengthen the character of the culture itself, which is always relevant to the era. This research is expected to contribute to new discipline in colour learning relating to the power of local culture that in turn will develop the discipline of design itself, and at the end of the day, in the long run, will encourage the creation of design artefacts with strong cultural character and characteristic.

Keywords: colour, local culture, design

Abstrak – Masculinity of Women in RED Cobex, a Comedy Genre – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Lala Palupi Santyaputri
lala.santyaputri@uph.edu I Universitas Pelita Harapan

Abstrak

Visualisasi dalam film memiliki pengaruh besar dalam pikiran penonton. Penonton film secara tidak sadar membentuk persepsi tertentu terhadap gambaran pokok dalam konstruksi gender. Dalam hal ini gambaran yang akan diteliti dalam film ini adalah perbedaan visualisasi perempuan dalam sinema dengan genre komedi khususnya maskulinitas perempuan dalam film “Red Cobex” yang diproduksi pada tahun 2010. Konstruksi visual tertentu akan menciptakan makna pada pikiran audiens akan membuat konstruksi stereotype tertentu atas gender. Metode penelitian yang digunakan adalah analisa konten sebagai model untuk menjabarkan perbedaan visualisasi gender yang mempengaruhi persepsi audiens.

Kata Kunci : komedi, maskulinitas, perempuan, sinema.

 

Abstract

Visualization in film has great influence in the audience’s mind. In this case the cinema viewers who regularly watch a comedy genre unconsciously form a certain perception of an underlying description in gender construction. The description in this particular movie that will be examined is the visualization of gender differences in comedy, especially masculinity on women on Red Cobex the movie produced in 2010. A particular visual construction will create meaning in the audience’ mind on certain stereotype over gender issue. Using deductive content analysis the visualization of women that affect the perception of the audience is broken down.

Keyword : cinema, comedy, masculinity, women.