Abstrak – Membaca Bad Ass Sebagai Manifesto Seorang Antihero – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Bagus Purwoadi
Institut Kesenian Jakarta
yanginibagus@gmail.com

Abstrak

Salah satu video musik yang ditayang di media sosial dan menjadi topik pembicaraan juga menjadi obyek cemoohan adalah video musik Badass dari penyanyi Awkarin dengan visual yang kontroversial. Bad Ass, baik lirik maupun video klipnya, bisa dibaca sebagai sebuah manifesto dari seorang Antihero, abad milenia. Bertolak dari atribut dan tanda-tanda yang digunakan, terlihat kesamaan antara sosok awkarin dalam badass, Atribut pejuang Zapatista, dan perempuan-perempuan bertopeng ski mask dalam video porno yang banyak beredar dengan kata kode “femdom.”  Penggunaan topeng di semua sosok menjadi titik tolak analisis. Tokoh Awkarin dilihat sebagai Idol antihero yang menggunakan referensi-referensi untuk mengkonstruksi citra dirinya. Masyarakat di media sosial menjadi voyeurist dalam kaitannya dengan sosok Awkarin tersebut. BadAss menjadi cerminan generasi milenia yang menyerap segala sesuatu yang ditolak oleh kaum konservatif sebagai Indonesia, sementara menjadi Indonesia itu sendiri adalah suatu isu budaya yang masih akan terus bergulir.

Kata kunci:  Awkarin, ski mask, idol, video musik

 

Abstract 

Awkarin’s Bad Ass music video is widely aired on social media. This particular video has been widely discussed and at the same time being booed due to its visual controversy. Bad Ass video, both the lyrics and the video clip can be read as a manifesto of an antihero of the millennial. Based on the attributes and signs being used, we can see some similarities between the character of Awkarin in Badass, the Zapatistas fighters, and the women wearing a ski mask in a porn video with a code name “femdom.” The use of masks by all the characters is the starting point of the analysis. The character of Awkarin is regarded as an antihero Idol who uses references to construct his image. People in social media have become a sort of voyeur in relation to the character of Awkarin. Bad Ass becomes a reflection of millennium generation who absorb everything that was rejected by the conservatives as Indonesia while being Indonesia itself is a cultural issue that will continue to take place.

Keywords: Awkarin, ski mask, idol, videomusic

Pengantar – Eksplorasi Keragaman Media Seni – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Eksplorasi Keragaman Media Seni

 

 

 

 

 

Jurnal Seni Rupa Warna
Eksplorasi Keragaman Media Seni

edisi Maret 2017
pISSN: 2355-1682

Jurnal Seni Rupa Warna (JSRW) kali ini menampilkan tulisan-tulisan yang berupa laporan dari para peneliti di bi­dang Seni Rupa dan Desain. Media serta bentuk dari obyek dan subyek yang diteliti berbagai macamnya, mulai dari suatu tayangan video di youtube, media ruang museum, media penerbitan majalah, produk baju kaos, hingga penggalian proses kreatif atas sosok seorang pelukis ternama Indonesia. Bidang-bidang seni yang dipayungi pemaknaan kata “Visual” ternyata tidak sederhana. Aspek visual tersebut harus diurai lagi menjadi berbagai pendekatan yang terkait dengan prinsip-prinsip dan konsep-konsep di masing-masing bidang, di samping juga dibutuhkannya pemahaman yang mendalam tentang sifat dari media tersebut.

Di sisi lain, sebagai bagian dari institusi yang tidak hanya mengembangkan wacana, tapi juga mengem-bangkan proses penciptaan karya baru, kita juga menandai banyak temuan menarik dari proses penciptaan karya seni rupa. Laporan yang dimuat di jurnal ini, selain berasal dari penelitian yang tujuan akhirnya berupa pengetahuan dan pengembangan wawasan semata, ada juga penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari proses penciptaan karya seni, digunakan sebagai dasar untuk membuat karya baru. Dalam jurnal kali ini, dimuat laporan penelitian dari proses penciptaan karya seni rupa yang diangkat dari pengamatan seni tari.


Daftar Isi Edisi Maret 2017

Kajian Naratologi pada Tata Pameran Tetap Museum Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta Studi kasus Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Henny Hidajat | DKV Universitas Bunda Mulia
AbstrakPDF


Membaca “Bad Ass” Sebagai Manifesto Seorang Antihero
Bagus Purwoadi | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak | PDF


PERUPA: Nashar
Gesyada Annisa Namora Siregar | Jakarta 320C – Ruang Rupa

Abstrak | PDF


Proses Kreatif Konsep Penciptaan Bentuk
(Studi kasus: Kemben, pakaian adat perempuan Jawa, penari Jawa)
Lucky Wijayanti | Institut Seni Yogyakarta
Setiawan Sabana | Institut Teknologi Bandung

Abstrak | PDF


Pemaknaan Garuda Pancasila melalui T-shirt “Hiduplah Indonesia Raya”
Rasuardie | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak | PDF


Menatap Iklan Reebok “Easytone – Reetone”
Indah Tjahjawulan | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak | PDF


Studi Skema Warna Berdasarkan Lokal Konten Budaya Kota
Jonata Witabora | Universitas Pelita Harapan
Kadek Satria Adidharma | Universitas Bina Nusantara
Meilani | Universitas Bina Nusantara
Anastasia Ari Respati | Universitas Bina Nusantara

Abstrak | PDF


Masculinity of Women in RED Cobex, a Comedy Genre
Lala Palupi Santyaputri | Universitas Pelita Harapan

Abstrak | PDF


TINJAUAN BUKU
John Lent, Asian Comics, Mississippi. University Press of Mississippi.
ISBN 978-1-62846-158-9 (hardback), 978-1-62846-159-6 (ebook)
Iwan Gunawan | Institut Kesenian Jakarta

PDF

Abstrak – Kajian Naratologi pada Tata Pameran Tetap Museum Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta Studi kasus Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh Henny Hidajat
DKV Universitas Bunda Mulia
henny.hi@gmail.com

Abstrak

Artikel ini disusun berdasarkan hasil penelitian untuk menganalisa  aspek narasi seperti tercermin pada tata pameran tetap dari museum perjuangan kemerdekaan Indonesia di kota Jakarta, dengan studi kasus Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Observasi dilakukan terhadap fisik tata pamer serta melibatkan responden, terutama berkaitan dengan penyampaian cerita mengenai terjadinya peristiwa sejarah. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap narasumber, serta kajian teori dari berbagai referensi. Pendekatan naratologi dilakukan dengan penjabaran narasi penceritaan yang terdiri dari alur, penokohan, latar tempat dan waktu, serta pesan nilai perjuangan yang dapat dipahami oleh pengunjung, yang diwakili responden.

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tata pamer museum, terutama museum sejarah, membutuhkan penegasan pada bagian awal, klimaks dan akhir, serta tokoh tertentu, agar pengunjung dapat menyadari jalan cerita dan pesan perjuangannya. Dengan demikian, peristiwa sejarah dapat dipahami secara menyeluruh dan memberikan kesan mendalam kepada pengunjung, serta tata pamernya mampu menampilkan daya tarik visual hingga pengunjung tetap antusias dari awal sampai selesai.

Kata Kunci : Museum, Pameran, Storyline, Sejarah, Pengunjung


Abstract

Naratology studies in the permanent exhibitions of battle for independency museums in jakarta case studies Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi

This article is created based on research to analize narative aspect as reflected on the permanent exhibition design of museums depicting Indonesian movement for independence, with Museum Sumpah Pemuda and Museum Perumusan Naskah Proklamasi as case study.

Observation were done to the displays of the exhibition area, involving respondents, especially relating to the storyline about the historical events. Interviews to the museum expert and staff were also done to complete the source of the data, beside  theoretical references. Narratology approach was applied by elaboration of the narrative storytelling, which is consist of plot, characters, time and place background, values of the story that can be understood by visitors, represented by respondents.

Based on the research can be conclude that museums exhibition, especially historical museums, needs emphasize in the beginning, climax and at the end of the story, also certain characters. Therefore, visitors may comprehend the storyline and the values of the story. Hopefully It also will give  deep impression to visitors, and to create visual interest, so that the visitors will keep enthusiastic until the last display.

Keywords : Museum, Exhibition, Storyline, History, Visitors


Artikel | pdf

Abstrak – Perupa: Nashar – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Gesyada Annisa Namora Siregar

gesyanamora@gmail.com | Jakarta 320C – Ruang Rupa

Abstrak

Tiga-¬Non: non-¬prakonsepsi, non¬-teknik akademis, dan non-¬estetik akademis adalah gagasan yang dikemukakan seniman dan pemikir seni rupa Indonesia, Nashar, pada tahun 1970-an. Tulisan ini merupakan rangkuman proses untuk memahami perjalanan Nashar menemukan Tiga-Non, pengaruh kawan dan gurunya, Oesman Effendi dan Affandi dalam sikap kepelukisannya, apa yang dimaksudkan Nashar dengan Tiga-Non-nya, dan terakhir melihat bagaimana Tiga-¬Non dipraktikkan oleh Nashar dalam karya-karyanya.
Kata Kunci: Tiga-Non, non-¬prakonsepsi, non¬-teknik akademis, non-¬estetik akademis

Kata Kunci: Tiga-Non, non-prakonsepsi, non-teknik akademis, non-estetik akademis

 

Abstract

Non-preconception, non-academic technique, and non-academic esthetic are the three concepts presented by Nashar, one of the Indonesian fine arts artists and thinkers, in 1970s. This article is a summary covering the process of understanding Nashar’s journey to find his Three-Non, the influence of a friend cum teachers, Oesman Effendi and Affandi in his attitude to his painting career, what he meant with his Three-Non, and lastly, to see how the Three-Non was operated by Nashar in his works. 

Keywords: Three-Non, Non-preconception, non-academic technique, non-academic esthetics

 

 

Kajian Naratologi pada Tata Pameran Tetap Museum Perjuangan Kemerdekaan di Jakarta Studi kasus Museum Sumpah Pemuda & Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Oleh Henny Hidajat
DKV Universitas Bunda Mulia
henny.hi@gmail.com

Latar Belakang
Museum adalah suatu lembaga yang bersifat nirlaba, permanen, dan terbuka untuk umum. Museum melayani masyarakat dan segala perkembangannya. Secara khusus museum bertugas menyelenggarakan pengumpulan, konservasi, riset, mengkomunikasikan dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan baik yang berwujud kebendaan ataupun tak benda beserta lingkungannya bagi tujuan pendidikan, penelitian dan hiburan ((http://icom.museum/the-vision/museum-definition/). Penyajian koleksi dalam suatu tata pamer adalah bagian dari tugas museum untuk mengkomunikasikan dan memamerkan koleksi serta segala hasil riset ataupun kuratorial dari peninggalan dan warisan materiil maupun non materiil dari manusia dan lingkungannya tersebut. Menurut Ali Akbar (Akbar, 2010) display pameran selain memamerkan koleksi yang dianggap masterpiece maka penataan jalan cerita atau narasi juga penting.

Dalam desain interior penataan jalan cerita bukan hanya penting bagi penataan alur pengunjung (visitor’s flow) tapi juga berfungsi sebagai benang merah agar komunikasi dan pesan yang diberikan oleh pengelola museum dapat dipahami pengunjung. Alur narasi menjadi pedoman dari awal hingga akhir kunjungan dan menyatukan seluruh konsep pameran koleksi. Tanpa adanya alur narasi yang jelas maka pengunjung kemungkinan hanya akan mengingat satu dua koleksi yang menjadi masterpiece, namun tidak mampu memahami maksud pameran secara keseluruhan sehingga museum akan cenderung dipahami sebagai tempat menyimpan koleksi belaka. Narasi juga menjadi penting agar pengunjung mampu memaknai arti penting koleksi. Dengan demikian koleksi tidak hanya tampak sebagai barang tua sebagai pajangan antik, namun dapat dipahami dan dihargai nilai pentingnya sebagai saksi sejarah yang memiliki riwayat unik. Apapun jenis museumnya narasi dapat dikembangkan (Akbar, 2010), baik melalui tata letak dan pengelompokan koleksi, label dan panel informasi, peralatan multimedia interaktif hingga koleksi yang mampu berinteraksi dengan seluruh panca indera pengunjung.

Peristiwa revolusi kemerdekaan Indonesia sejak persiapannya hingga usaha-usaha untuk mempertahankannya merupakan suatu narasi yang amat penting bagi munculnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua peristiwa penting yang turut mempersiapkan kemerdekaan Indonesia antara lain adalah peristiwa Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kedua peristiwa ini diabadikan pada dua museum, yang berkaitan dengan tempat terjadinya peristiwa sejarah tersebut, yaitu Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Dengan demikian, kedua museum tersebut dapat dipilih untuk mewakili pembahasan mengenai museum perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia, sebagai suatu studi kasus. Kedua museum tersebut memiliki arti strategis selain melakukan konservasi terhadap benda-benda bersejarah berkaitan dengan upaya kemerdekaan, juga mampu menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan rasa berkebangsaan para generasi penerus. Sementara itu, salah satu sarana penting pada museum-museum tersebut adalah tata pamernya, dimana narasi menjadi benang merah yang menyatukan keseluruhan konsep tata pamer museum.

Narasi mengacu pada suatu penuturan naratif, baik melalui wacana visual, lisan maupun tulisan, mengenai suatu peristiwa ataupun serangkaian peristiwa, baik peristiwa nyata ataupun khayalan. Konsep narasi dapat ditemui antara lain dalam mitos, legenda, dongeng, hikayat, novel, epik, sejarah, tragedi, drama, komedi, humor, lukisan, film, komik maupun percakapan. Konsep narasi juga digunakan untuk menceritakan tentang suatu jaman, tempat, masyarakat, ataupun hal-hal lainnya. Perjalanan sejarah bangsa, khususnya periode perjuangan kebangsaan sebagai bagian dari upaya menuju kemerdekaan dapat dijelaskan pula dalam narasi, dimana narasi tersebut selain berbentuk cerita, teks, ataupun film, dapat direfleksikan pula dalam suatu tata pamer di museum.

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan aspek narasi, yang meliputi alur, penokohan, latar tempat dan waktu serta pesan moral, seperti tercermin pada tata pamer, terutama pameran tetap dari museum perjuangan kemerdekaan Indonesia di kota Jakarta, dengan studi kasus Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sesuai dengan peristiwa sejarah terkait. Selain itu, penelitian ini juga berusaha untuk menemukan bagaimana tingkat pemahaman target pengunjung museum terhadap narasi dalam tata pamer museum perjuangan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, khususnya Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sehingga dapat ditemukan hubungan antara penyampaian dan penerimaan pesan dalam pameran tersebut.

Kajian Teori Naratologi
Naratologi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang narasi dan segala hal yang melingkupinya. Menurut Acep Iwan Saidi (Saidi, 2008:22), narasi atau narrative secara leksikal berarti cerita atau kisah. Dalam hal ini cerita secara intrinsik terdiri dari aspek peristiwa, tokoh dan penokohan, latar (setting) dan alur, dimana cerita merupakan peristiwa yang berpusat pada tokoh. Semua aspek tersebut berhubungan dalam membentuk struktur dan kesatuan cerita. Sementara itu secara ekstrinsik cerita terbangun atas aspek tematik, yang merupakan gagasan dasar pengarang yang ingin disampaikan dalam cerita, dimana di dalamnya terdapat pesan, amanat, kritik ataupun nilai-nilai yang ingin disampaikan pengarang. Sementara alur dapat diatur maju, mundur ataupun penggabungan keduanya, dimana di dalam alur dapat diatur klimaks cerita atapun tegangan-tengangan di antaranya.

Komponen yang penting dalam pembentukan naratif menurut Gergen (Gergen & Gergen, 1988:20-22), antara lain adalah pokok pikiran dan penetapan titik akhir cerita, sehingga terdapat peristiwa yang dapat dijelaskan serta terdapat nilai-nilai yang dapat dipahami pembaca pada akhir cerita. Narasi membutuhkan suatu kerangka pikiran yang evaluatif (MacIntyre dalam Gergen & Gergen, 1988:21), dimana para tokoh, baik yang jahat maupun yang baik bersama-sama menghasilkan suatu akhir yang bahagia ataupun sebaliknya.

Serangkaian peristiwa yang diseleksi sesuai dengan relevansi tujuan cerita juga merupakan komponen penting dalam pembentukan naratif. Dengan demikian pemahaman pembaca terarah sesuai tujuan cerita dengan memilih penceritaan mengenai peristiwa yang sesuai. Serangkaian peristiwa yang telah diseleksi tadi perlu diceritakan sesuai dengan urutan yang dapat menunjang pemahaman pembaca. Urutan cerita dari serangkaian peristiwa tadi perlu memiliki keterkaitan sebab akibat. Pada akhirnya, perlu terdapat penegasan terhadap batas awal dan akhir dari cerita. Penegasan ini diharapkan akan membingkai dunia yang ada di dalam cerita, sehingga pembaca diajak masuk dalam dunia di dalam cerita tersebut.

Sementara itu Bruner (Bruner,1986:7,17-21), menegaskan komponen naratif yang lebih sederhana mengandung Fabula,yaitu tema yang mendasar tanpa waktu dan gerak (timeless, motionless, underlying theme) dan Sjuzet, yaitu peristiwa-peristiwa linier yang membentuk plot dari suatu narasi (linear incidents that makes the plot). Naratif mengandung identifikasi atau penentuan posisi pikiran utama certa, seperti keberpihakan terhadap kebaikan atau penonjolan terhadap menangnya kebaikan terhadap kejahatan.

Sementara itu, menurut Gorys Keraf struktur narasi adalah perbuatan atau aksi, penokohan, latar, sudut pandang, alur, pesan. Alur didasarkan pada kesinambungan peristiwa dalam hubungan sebab akibat. Alur juga menandai awal dan akhir dari narasi. Alur juga ditandai oleh puncak atau klimaks. Menurut Keraf (Keraf, 1982:145,146) narasi harus diberi batasan yang jelas agar tidak melebar dan membingungkan, yaitu serangkaian tindakan yang terdiri dari tahap-tahap penting dalam sebuat struktur yang diikat oleh waktu, dengan demikian dapat memberikan suatu makna tertentu

Dalam penokohan suatu cerita terdapat tokoh yang dianggap sebagai tokoh utama, yaitu tokoh yang diunggulkan dan berperan penting dalam cerita. Tokoh-tokoh lain yang mendukung peranan tokoh utama dapat disebut sebagai tokoh pendukung. Dalam penokohan juga terdapat kecenderungan menampilkan tokoh yang bersifat protagonis, yaitu yang dianggap sebagai ‘tokoh yang berpihak pada kebaikan’ yang biasanya digambarkan berhadapan dengan ‘tokoh jahat’ atau yang sering disebut antagonis. Untuk mendukung alur cerita bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, yang biasanya terdapat pada cerita anak-anak, maka tokoh antagonis biasanya adalah tokoh yang dianggap dikalahkan oleh tokoh protagonist dan alur kebaikan yang mengalahkan kejahatan perlu ditampilkan secara jelas agar pesan moralnya dapat ditangkap dengan mudah.

Berdasarkan berbagai teori mengenai komponen narasi tersebut dapat dibuat suatu simpulan dalam bagan berikut ini :

Bagan1. Komponen Narasi

Narasi sebagai Pendekatan Tata Pamer Museum
Storytelling pada tata pamer museum mewakili suatu pengalaman yang utuh dan menyeluruh antaraobyek dan media di dalam ruang tiga dimensional secara terbuka, ditambah lagi dengan adanya kesempatan urutan yang bebas. Dalam situasi spasial yang mencakup tata letak pada tata pamer museum, istilah storytelling tersebut lebih sering dijelaskan dalam istilah storyline.

Oleh karena itu penciptaan tata pamer museum dapat dilaksanakan dengan pendekatan kepada pengalaman dan interpretasi terhadap situs, lokasi, bangunan, obyek dan tokoh-tokoh, yang berkaitan dengan karakter spasial dari narasi dan storyline serta berhubungan dengan persepsi dan imajinasi pengunjung. Pada proses ini terdapat upaya merangkai berbagai persepsi tentang suatu hal dan hal-hal di sekitarnya ke dalam suatu cerita narasi. Dilakukan pula upaya untuk menyeleksi dan menyunting cerita narasi tersebut dengan segala resiko terhadap bias maupun distorsi yang menyertainya.

Cerita narasi tersebut selanjutnya menjadi suatu konsep terpadu bagi pihak-pihak dengan berbagai multidisiplin yang terlibat dalam proses penciptaan tata pamer, misalnya : pengelola museum, kurator, sejarawan, budayawan, penulis, arsitek, desainer interior, desainer grafis, desainer multimedia, ahli lanskap, ahli tata cahaya, ahli tata suara,dan lain-lain. Walaupun masing-masing memiliki keahlian yang berbeda-beda, semua pihak yang terlibat harus dapat berkolaborasi untuk menciptakan suatu tata pamer dengan narasi yang dapat dipahami dan bermakna bagi pengunjung museum.

Dalam hal ini narasi diharapkan mampu memfasilitasi kolaborasi di antara para profesional tersebut, sehingga tercapai integrasi di antara media dan mampu menciptakan pengalaman kunjungan museum yang utuh dan kuat. Selain itu narasi diharapkan dapat menjembatani berbagai jurang yang ada, baik antara masa lalu dan masa kini, jurang geografis, budaya, jurang sosial diantara pengunjung, jurang profesional antara berbagai pihak yang terlibat dalam penciptaan museum, jurang di antara media-media yang diaplikasikan dalam pameran.

Penyusunan narasi tersebut juga perlu memperhatikan berbagai hal, seperti misalnya suatu pameran tetap pada umumnya disusun untuk jangka waktu lama sehingga perlu adanya fleksibilitas. Demikian pula dengan permasalahan antara lokal dan universal, tata pamer akan dilihat oleh pengunjung lokal maupun internasional sehingga harus mampu menjembatani pemahaman yang beragam, perlu juga memiliki sudut pandang yang netral agar dapat bersifat universal. Dalam proses penyuntingan tersebut, sekalipun narasi dapat berpotensi untuk menciptakan suatu realita yang artifisial dari suatu fakta tidak beraturan, obyektivitas tetap perlu dipertahankan.

Pada masa awal perkembangannya tata pamer museum umumnya lebih bergantung pada keunikan obyek koleksi yang mampu membuat pengunjung tertarik dan terkagum-kagum. Sementara pada abad ke-20 museum mulai diarahkan pada berbagai bidang ilmu pengetahuan, dan presentasi koleksi mulai diarahkan pada tema-tema tertentu dan disajikan dengan diorama serta model-model tiga dimensi. Mulai abad ke-21, sejalan dengan perkembangan masyarakat, terdapat kemajuan dalam dunia pendidikan maupun hiburan serta perkembangan teknologi dan multimedia, yang memungkinkan tampilan tata pamer mendekati penataan teatrikal sehingga menjadi lebih realistik. Selain itu pameran museum pada umumnya mulai terarah pada keterlibatan dengan pengunjung. Dengan demikian pengunjung tidak hanya melihat koleksi saja, tapi terdapat tata pamer yang dapat dicoba atau menuntut aktivitas pengunjung. Tata pamer tersebut dapat dilengkapi dengan program-program museum lain yang mendukung penyampaian materi maupun publikasi museum, seperti workshop, seminar, lomba, dan lain-lain. Untuk itu museum biasanya dilengkapi auditorium, ruang seminar, toko cinderamata, restauran, area permainan, website, hotspot dan lain-lain.

Oleh karena itu tata pamer museum di masa kini menjadi penuh tantangan, baik dari segi kreativitas, kompleksitas dan permasalahan kolaboratif. Para perencana tata pamer museum perlu dapat berkolaborasi dengan baik untuk mampu membangun pengalaman visual yang menarik dan berkesan bagi pengunjung, sehingga kunjungan tersebut memberikan makna yang dapat dihayati, serta bernilai edukatif. Untuk itu dibutuhkan adanya peningkatan standar fasilitas serta ragam media dalam tata pamernya.

Museum harus menjadi bangunan yang amat komunikatif, memiliki tata pamer yang kompleks dan menyentuh emosi, serta interpretatif. Hal ini dapat diupayakan dengan menciptakan suatu lingkungan yang bersifat naratif, yaitu obyek, ruang dan cerita dari tokoh-tokoh, maupun tempat terintegrasi sebagai bagian dari proses storytelling yang menyuarakan pengalaman masa lalu, masa kini, ataupun perkiraan akan masa depan, dengan cara yang unik dan khusus.

Metodologi Penelitian

Dalam observasi penelitian ini tata pamer dan display diperlakukan sebagai teks yang diteliti segi narasi ataupun penceritaannya. Sebagai kerangka pemahaman terhadap tata pamer, hal ini dikaitkan dengan pendekatan naratologi, terutama yang menjelaskan bahwa suatu struktur narasi terdiri dari aksi, penokohan, latar, sudut pandang dan alur atau plot yang terikat oleh tempat dan waktu (Keraf, 1982:145,146), serta secara ekstrinsik terbangun atas aspek tematik (Saidi, 2008:22), yang merupakan gagasan dasar yang ingin disampaikan, dan di dalamnya terdapat pesan, amanat, kritik ataupun nilai-nilai yang ingin disampaikan.

Bagan berikut dapat menjelaskan kerangka pemikiran dalam penelitian ini.

Bagan2. Kerangka Pemikiran

Pengumpulan data dilakukan antara Juli – Desember 2012 dengan studi literatur, serta observasi lapangan terhadap museum-museum perjuangan, terutama pada bagian yang difokuskan yaitu pada tata pameran tetap. Selain itu diselenggarakan pula wawancara dengan pihak pengelola museum maupun dengan pengunjung museum, terutama yang sesuai dengan sasaran targetnya, yaitu pelajar. Agar masukan dapat maksimal, maka dipilih sejumlah siswa SMP dan SMA atau yang sederajat sebagai responden yang mewakili pengunjung. Pertanyaan disusun sehubungan dengan pemahaman mereka tentang peristiwa Sumpah Pemuda dan Perumusan Naskah Proklamasi sebelum dan setelah mengunjungi museum, dengan pertanyaan tentang peristiwa tersebut dengan sudut pandang narasi, yang meliputi penokohan, alur cerita, latar waktu dan tempat serta pesan yang terkandung sesuai tata pamer yang  telah dikunjungi.

Pengumpulan data dilengkapi dengan observasi lapangan yang meliputi pengamatan terhadap kondisi fisik tata pameran tetap, seperti pilihan koleksi yang ditampilkan, penunjang peragaan, tata letak, storyline dan alur pengunjung, pencahayaan. Bagan berikut menjelaskan proses pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini.

Bagan 3. Pengumpulan Data Penelitian

Narasi tentang Sejarah Sumpah Pemuda

Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan proses perjuangan konsolidasi dan diplomasi menyangkut bangkitnya rasa kebangsaan sebagai bangsa Indonesia. Munculnya Sumpah Pemuda tidak lepas dari Kongres Pemuda yang telah melahirkan ikrar tersebut. Peristiwa ini dapat dianggap sebagai suatu permufakatan dari perwakilan suku-suku bangsa di Indonesia untuk dapat bersatu sebagai suatu kesatuan.  Peristiwa Kongres Pemuda didukung oleh munculnya organisasi-organisasi pemuda yang diawali oleh Budi Utomo sebagai inspirasi tumbuh kembangnya organisasi pemuda bercorak nasional kebangsaan. Para pemuda tersebut merasa perlu bahwa persatuan pemuda Indonesia dapat dituangkan dalam satu wadah sehingga dapat satu derap langkah yang sama dalam mencapai cita-cita pemuda Indonesia umumnya.

Kongres untuk mencapai persatuan pemuda Indonesia diselenggarakan di Jakarta pada 1926 yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I yang dipimpin oleh Tabrani, disusul Kongres Pemuda Indonesia II di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928, yang dipimpin oleh Sugondo untuk mempersatukan segala perkumpulan pemuda Indonesia yang ada dalam satu badan gabungan. Sekalipun mendapatkan pengawasan yang sangat ketat dari pemerintahan kolonial Belanda saat itu kongres ini mampu menghasilkan Sumpah Pemuda yang isinya adalah persatuan tanah air, bangsa dan bahasa yaitu Indonesia.Dalam kongres ini juga diperkenalkan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dan bendera Merah Putih yang dipandang sebagai bendera pusaka bangsa Indonesia.

Sejak itu sejalan dengan berdirinya organisasi-organisasi kepemudaan tersebut, muncul banyak konferensi ataupun kongres semacam Kongres Pemuda tersebut.Walaupun pemerintah kolonial semakin ketat mengawasi organisasi kepemudaan, namun organisasi dan kongres ataupun konferensi kepemudaan semacam itu malah semakin banyak dan semakin kuat dalam keinginan meraih kemerdekaan. Muncul organisasi kepemudaan yang bersifat nasional, seperti Indonesia Muda dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Bahkan gerakan kepemudaan Indonesia mencapai luar negeri pula, seperti di Eropa maupun di Negara-negara Arab. Di luar negeri organisasi kepemudaan Indonesia turut serta dalam konferensi-konferensi kepemudaan bersifat internasional yang bertujuan mempropagandakan nama Indonesia di dunia internasional sekaligus menggalang persahabatan dengan para pemuda bangsa lain dalam usaha mencapai cita-cita Indonesia merdeka.

Narasi tentang Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan

Perumusan Naskah Proklamasi mulai dilakukan setelah Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta setelah ‘diculik’ oleh para pemuda di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Peristiwa ‘penculikan’ ini terjadi karena Golongan Tua yang diwakili oleh Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo berpendapat bahwa untuk memerdekakan diri diperlukan adanya rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sementara itu, Golongan Muda yang diwakili oleh Sukarni, Chaerul Saleh dan Sayuti Melik bermaksud untuk membebaskan diri dari PPKI yang merupakan bentukan Jepang. Akhirnya setelah Ahmad Soebardjo memastikan bahwa Proklamasi akan diselenggarakan esok harinya maka para pemuda membebaskan mereka kembali.

Sekembalinya ke Jakarta, malam harinya Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo pergi ke rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk meminjam rumahnya guna merundingkan perumusan Naskah Proklamasi. Naskah Proklamasi mulai dirumuskan sekitar pk. 03.00 dini hari oleh Soekarno, dengan dibantu oleh Hatta dan Ahmad Soebardjo. Setelah disetujui oleh kelompok masyarakat yang hadir dan disepakati bahwa hanya Soekarno dan Hatta saja yang menandatanganinya maka konsep berupa tulisan tangan tersebut diketik oleh Sayuti Melik didampingi B.M Diah.

Setelah Naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, diputuskan bahwa pembacaannya akan dilakukan di halaman depan rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur 56. Maka setelah mengucapkan pidato singkat, pada pk. 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, dengan disaksikan oleh para hadirin, Soekarno membacakan teks Proklamasi yang menandai kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah itu dilakukan pengibaran Bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat dan Suhud Martokusumo, yang kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Walaupun pemerintah kolonial Belanda tidak mengakui peristiwa tersebut sebagai saat kemerdekaan Indonesia, tetapi untuk selanjutnya hari bersejarah tersebut tercatat oleh bangsa Indonesia sebagai hari bebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa lain dan diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia.

Museum Bertema Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Sesuai dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi berikaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia maka seringkali peristiwa tersebut diabadikan dengan pembangunan museum. Hal ini dilakukan pada bangunan bersejarah tempat peristiwa memang terjadi ataupun berkaitan dengan peristwa tersebut, yang juga disebut dengan istilah museum bangunan bersejarah (Historic House Museum). Di antara beberapa museum sejarah di Jakarta merupakan museum bangunan bersejarah, misalnya adalah Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yang merupakan tempat terjadinya peristiwa bersejarah. Museum bangunan bersejarah merupakan bangunan yang mewakili suatu periode waktu ataupun peristiwa tertentu dan telah ditransformasikan menjadi sebuah museum.

Pada museum bangunan bersejarah  barang-barang  bernilai sejarah dapat disajikan sesuai dengan tata letak dan fungsi yang sesuai dengan keadaan semula atau ketika peristiwa berlangsung, misalnya pada lantai dasar Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang ditata sesuai dengan ketika kejadian berlangsung. Namun dapat pula penataan lebih kepada informasi yang ingin disampaikan, seperti pada Museum Sumpah Pemuda. Seringkali terdapat kendala-kendala pada penyusunan tata pamer, misalnya menyangkut keterbatasan area, keterbatasan data dan dokumentasi, dan kendala lainnya, terutama ketika area tidak segera dijadikan cagar budaya sehingga telah mengalami berbagai perombakan.

Koleksi yang diperagakan pada beberapa museum perjuangan kemerdekaan, termasuk Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, banyak berupa replika yang dibuat berdasarkan dokumentasi foto ataupun film. Demikian pula dengan penyajian benda-benda yang umum dipakai pada masanya seperti mebel ataupun benda-benda pajangan, radio, sepeda dan lain-lain. Benda-benda tersebut sekalipun tidak berkaitan dengan peristiwa bersejarah tersebut diharapkan mampu membawa pengunjung pada suasana masa ketika peristiwa bersejarah itu terjadi.

Peragaan lain yang banyak digunakan oleh museum sejarah perjuangan, termasuk Museum Sumpah Pemuda, adalah mini diorama yang diharapkan mampu memberikan pemahaman akan suasana ketika peristiwa bersejarah terjadi tanpa harus menggunakan area yang terlalu besar. Namun demikian diorama life size juga merupakan pendekatan yang banyak digunakan, karena diharapkan dapat memberikan efek yang lebih nyata kepada pengunjung. Untuk itu dibutuhkan manekin dan mebel berukuran sebenarnya. Panel informasi dan koleksi dalam vitrin juga menjadi media yang biasa ditampilkan dalam tata pamer. Panel informasi pada umumnya memberikan informasi dan gambar-gambar secara detail mengenai suatu bagian. Pendekatan ini digunakan pula pada Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Peranan Museum dalam Mengembangkan Sikap Nasionalisme pada Pelajar

Pada umumnya museum, terutama di Indonesia, lebih banyak dikunjungi secara berkelompok oleh pelajar dan mahasiswa, terutama anak-anak hingga remaja, dengan motivasi meningkatkan pengetahuan dan wawasan, serta hiburan. Hal ini juga dapat ditemukan pada kedua museum. Berdasarkan data kunjungan, pengunjung Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagian besar adalah pelajar, mulai dari TK hingga SMA dan mahasiswa, dengan demikian dapat diperkirakan sebagian besar pengunjung merupakan anak-anak hingga remaja. Kebanyakan para pelajar tersebut datang dalam rombongan sekolah. Mereka umumnya telah memiliki latar belakang pengetahuan tentang sejarah kemerdekaan Indonesia sesuai dengan kurikulum di sekolah dasar hingga menengah. Jadi motivasi utama kunjungan para pelajar tersebut selain memenuhi kewajiban sekolah, adalah keinginan menambah pengetahuan setelah melihat benda-benda yang dipamerkan, selain keinginan untuk terhibur.

Tahun

Pengunjung

JUML

TK

SD

SMP

SMA

MHS

UMUM

ASING

2009

100

4,525

1,402

975

1,023

1,208

10

9,243

2010

135

3,150

486

897

1,136

2,324

4

8,132

2011

108

3,031

1,428

1,777

1,721

1,982

6

10,053

2012

(hingga Juni)

27

1,405

341

986

726

836

3

4,324

TOTAL

370

12,111

3,657

4,635

4,606

6,350

23

31,752

Tabel 1. Data Pengunjung Museum Sumpah Pemuda

(sumber: Arsip Museum Sumpah Pemuda)

Tahun

Pengunjung

JUML

TK

SD

SMP

SMA

MHS

UMUM

ASING

2009

286

3,760

2,293

2,774

717

2,834

100

12,764

2010

220

1,992

3,156

3,475

885

2,765

145

12,638

2011

0

1,741

2,483

2,695

797

3,485

136

11,337

2012

(hingga Juni)

82

1,540

1,474

1,261

379

654

180

5,570

TOTAL

588

9,033

9,406

10,205

2,778

9,738

561

42,309

Tabel 2. Data Pengunjung Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Pemuda (sumber: Arsip Museum Perumusan Naskah Proklamasi)

Museum selain sebagai berfungsi sebagai tempat penelitian dan pelestarian benda bersejarah, juga berfungsi  sebagai tempat pembelajaran yang menghibur kepada pengunjungnya, terutama para pelajar tersebut. Tempat pembelajaran bukanlah hanya perlu memberikan materi yang bersifat data belaka, namun juga materi yang bersifat penghayatan dan oleh karenanya diharapkan dapat memotivasi pengunjung untuk memiliki perilaku dan sikap tertentu.

Dalam hal museum perjuangan, seperti halnya Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, melalui tata pamer yang ditampilkan, selain memiliki kemampuan dalam memberikan pendidikan tentang sejarah kebangsaan melalui koleksi, data-data dan informasi yang disajikannya, juga memiliki kemampuan menyentuh emosi dan penghayatan tentang peristiwa bersejarah beserta perjuangan para tokoh pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia kepada pengunjung, terutama para pelajar. Dengan demikian diharapkan mampu membentuk perilaku dan sikap tertentu, terutama rasa kagum, hormat dan termotivasi untuk meneruskan perjuangan mereka terutama dalam kehidupan berkebangsaan. Motivasi semacam ini perlu untuk ditanamkan sejak usia dini.

Aspek Naratologi dari Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Gambar 1. Museum Sumpah Pemuda (kiri) dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi (kanan)

Berdasarkan hasil analisa dari tata pamer kedua museum tersebut aspek narasi dan pendukung narasinya dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Storyline dan Alur Narasi

Kedua museum memiliki tata letak dan alur kunjungan yang disajikan secara gabungan antara sinkronik dan diakronik, yaitu penyajian secara tematik, yang disesuaikan dengan situasi saat peristiwa terjadi, dan penyajian secara kronologi  disesuaikan dengan urutan peristiwa. Hal ini sesuai dengan alur narasi dalam kejadian sejarah.

Pada kedua museum alur kunjungan menggunakan pendekatan anjuran (suggested approach) yang cenderung menggunakan tanda-tanda sebagai panduan yang dianjurkan dalam kunjungan. Pada kedua museum alur kunjungan yang dianjurkan didukung oleh tata letak ruang yang bersebelahan ataupun berdekatan, namun diarasakan kurang adanya petunjuk arah untuk melanjutkan kunjungan dan masih mengandalkan peran pemandu.

Penamaan pada ruang dibutuhkan untuk memberikan penegasan dan panduan bagi pengunjung agar dapat lebih mengingat alur cerita. Agar tidak mengganggu harmoni dan estetika ruang maka panel nama dapat dirancang secara khusus. Penerapan identitas ruang melalui pemilihan warna panel informasi yang berbeda-beda dapat membantu penekanan alur. Namun karena kurang adanya konsistensi pada warna, dimana satu warna dapat digunakan oleh dua atau tiga ruang, dan pengaturan warnanya kurang sistematis, maka hal ini menjadi kurang berperan pada kedua museum. 

Awal penceritaan pada Museum Sumpah Pemuda lebih pada deskripsi aktivitas pemuda, sementara pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi langsung pada urutan awal peristiwa pada rumah tersebut, yaitu penerimaan Sukarno, Hatta dan Subardjo oleh Maeda. Pada klimaks peristiwa terdapat penekanan.Museum Sumpah Pemuda penekanannya terdapat pada Ruang Kongres Pemuda II, dengan keberadaan jajaran manekin peserta kongres dan isi Sumpah Pemuda yang dibuat dalam plakat marmer berukuran besar di dinding. Hal ini dipahami oleh sebagian besar responden. Sementara pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi klimaks yang seharusnya pada Ruang Rapat Besar, tempat para hadirin menerima hasil perumusan Naskah Proklamasi kurang dipahami responden karena suasana yang kurang terbangun.

Gambar 2. Ruang Rapat Besar ketika Naskah Proklamasi diterima secara mufakat  kurang dirasakan sebagai klimaks

Akhiran pada Museum Sumpah Pemuda tampak memberikan kesan lebih kuat bagi para responden tentang pesan-pesan para tokoh karena menggunakan tipografi yang cukup besar, teks-teks singkat dan warna yang kuat, dibandingkan pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang memberikan epilog secara singkat setelah pameran tentang Pengakuan Kedaulatan RI. Epilog singkat tersebut kurang berkesan karena peletakannya pada sudut ruang yang bahkan nyaris tertutup daun pintu serta dicetak pada panel yang ukurannya relatif kecil dibandingkan panel-panel lainnya.

Dalam alur inti terdapat plot tambahan. Pada Museum Sumpah Pemuda yaitu penceritaan mengenai Kepanduan dan Indonesia Raya, yang berkaitan dengan peristiwa Kongres Pemuda. Sementara pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi, subplot adalah penceritaan tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia mulai dari awal penjajahan Jepang hingga Pengakuan Kedaulatan RI. Pengembangan alur tersebut dapat dipahami oleh responden dengan baik dan memperkaya materi yang disampaikan.

2. Penokohan dalam Narasi

Kedua museum memiliki penokohan yang sangat erat hubungannya dengan penceritaan peristiwa. Bahkan pada Museum Sumpah Pemuda yang memiliki materi tentang Indonesia Raya dan biografi W. R. Supratman, penamaan ruangnya adalah ‘Ruang Indonesia Raya’, bukan ‘Ruang WR Supratman’. Di dalam ruang tersebut kedua materi terbagi secara sepadan.

Pada kedua museum materi tentang individu kebanyakan hanya dijelaskan dalam panel. Selain itu penggambarannya adalah dengan patung dada, namun keberadaan patung dada kurang diminati oleh responden.

Patung manekin pada diorama besar mampu menarik minat yang sangat besar dari responden.Terbukti bahwa sebagian besar responden yang awalnya kurang mengenal Ahmad Subardjo dengan peranannya pada peristiwa Perumusan Naskah Proklamasi, ternyata dengan adanya manekin Ahmad Subardjo di antara Sukarno dan Hatta dalam Ruang Makan, tempat Naskah Proklamasi disusun dapat menambah pemahaman responden secara drastis. Begitu pula dengan Sayuti Melik, yang semula hanya diingat sebagian kecil responden, setelah kunjungan dapat diingat oleh sebagian besar responden. Hal ini karena Manekinnya terdapat pada ruangan Pengetikan Naskah Proklamasi.

Gambar 3. Penonjolan Ketiga Tokoh dengan pencahayaan khusus dan manekin besar di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Sebaliknya, di Museum Sumpah Pemuda, tokoh penting seperti Tabrani dan Sugondo yang menjadi pemimpin Kongres Pemuda I dan II ternyata tidak terlalu diingat responden  karena hanya muncul pada panel informasi dan patung dada di teras museum.

Yang mendapat perhatian responden pada museum Sumpah Pemuda adalah W. R. Supratman yang dibahas secara khusus pada Ruang Indonesia Raya, dan manekinnya terlihat menonjol pada diorama besar Kongres Pemuda II. Pada diorama tersebut manekin W.R. Supratman berdiri dan memainkan biola pada ujung kiri, sementara beberapa peserta lainnya hanya duduk.  Hal ini adalah sesuai dengan penerapan Prinsip Gestalt dalam desain pameran, yaitu penekanan (emphasize) dapat dilakukan melalui posisi yang membedakan, sehingga suatu objek dipersepsikan sebagai sesuatu yang lebih penting daripada objek-objek lain yang posisinya setara. Walaupun dalam diorama tersebut posisi W.R. Supratman yang berdiri adalah suatu hal yang wajar karena sedang bermain biola,namun demikian pose atau adegan ini menjadikan W.R. Supratman sebagai pusat perhatian atau dapat dipersepsikan sebagai objek yang paling penting dibandingkan dengan objek-objek lainnya yang sama-sama dalam posisi duduk.

Gambar 4. Penonjolan Tokoh W.R. Supratman sebagai pusat perhatian di Museum Sumpah Pemuda

Apabila penokohan protagonis, yang meliputi para pahlawan kemerdekaan kita, kurang mendapatkan penojolan, maka penokohan antagonis yang meliputi para musuh seperti Jepang dan Belanda, juga kurang ditonjolkan. Kekejaman Jepang dan Belanda yang dijelaskan secara agak detail pada buku-buku pelajaran sejarah pada kedua museum tidak serinci itu dijelaskan atau ditonjolkan. Hal ini termasuk posisi Maeda, pejabat militer Jepang, sebagai tuan rumah pada peristiwa Perumusan Naskah Proklamasi, yang kurang dibahas tokoh Maeda juga kurang diingat oleh responden.

3. Latar tempat dan waktu dalam Narasi

Pada kedua museum penataan disesuaikan dengan situasi ketika peristiwa terjadi, dimana hal tersebut mendukung terciptanya penghayatan terhadap situasi pada masanya. Hal ini merupakan upaya dalam membangun latar tempat ataupun waktu dalam suatu narasi sehingga mendukung pemahaman terhadap situasi dan cerita. Penggambaran situasi penting melalui diorama besar membantu penghayatan akan situasi saat itu dengan baik.

Pada umumnya responden mampu memahami latar tempat ataupun waktu dengan baik setelah kunjungan pada kedua museum tersebut, walaupun tidak semua area pamer ditata sesuai waktu dan tempat peristiwa. Responden dapat mengapresiasi suasana tempo dulu yang ditampilkan baik melalui pilihan furniture maupun interior dalam tata pamer.

Tampilnya koleksi yang sesuai dengan masanya juga memperkuat penghayatan ini, misalnya adalah bendera Merah-Putih yang telah pudar pada ruang Kepanduan Museum Sumpah Pemuda dan biola dari W.R. Supratman, walaupun hanya replika. Karena terdapat perbedaan konteks masa, koleksi sebaiknya diberi penjelasan yang memadai untuk lebih memperkenalkan koleksi tersebut sesuai dengan konteks waktunya. Hal ini juga untuk menghindari kesalahan persepsi.

Gambar 5. Koleksi Bendera di Ruang Kepanduan Museum Sumpah Pemuda

Konsistensi dalam arsitektur bangunan museum yang menjadi tempat terjadinya peristiwa maupun penataan interior secara keseluruhan turut memegang peranan dalam membangun latar tempat maupun waktu. 

Pada umumnya responden dapat menghayati suasana penting tempat terjadinya suatu peristiwa, misalnya suasana pada ruangan Kongres Pemuda II ataupun ruangan-ruangan di lantai bawah tempat proses perumusan Naskah Proklamasi terjadi. Hal ini didukung oleh penataan ruang yang sesuai situasi saat peristiwa penting tersebut terjadi, pemilihan mebel yang mendukung, penyajian diorama besar dengan manekin serta pencahayaan yang khusus.

4. Pesan Perjuangan dalam Narasi

Nilai-nilai yang diambil sebagai pesan perjuangan dari cerita akan lebih kuat apabila aspek kesulitan yang dialami tokoh dapat tergambar dengan dramatis. Pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi keseluruhan cerita tentang perjuangan kemerdekaan dan seriusnya usaha perumusan Naskah Proklamasi yang secara dramatis digambarkan pada area pamer lantai bawah tampaknya memberikan pesan yang kuat pada responden, dibandingkan dengan tata pamer pada Museum Sumpah Pemuda.

Pada Museum Sumpah Pemuda sebagian responden dapat memahami pesan persatuan, namun lebih melihat pemuda sebagai tokoh utama dalam perjuangan dibandingkan dengan makna perjuangan dan kepahlawanan para tokohnya. Sebagai kata kunci, pemuda juga merupakan hal yang berkaitan dengan identitas responden dan kekinian mereka. Tampaknya kata-kata perenungan pada ruang pamer terakhir, walaupun berkesan dan menarik bagi beberapa responden, isinya sendiri kurang dipahami karena menggunakan gaya bahasa lama.

Gambar 6. Pesan Perjuangan pada Ruang Perenungan Museum Sumpah Pemuda

5. Tata Ruang Pamer yang Mendukung Penceritaan

Pada kedua museum terdapat pengelompokan dan hierarki ruang yang memudahkan pengunjung untuk memahami keseluruhan penceritaan. Hal ini ditunjukkan oleh urutan ruang yang berdampingan letaknya, sehingga walau tanpa petunjuk arah, pengunjung bergerak sesuai dengan urutan tersebut dan mendapati penceritaan yang berkelanjutan.

Berkaitan dengan sirkulasi pengunjung, terdapat area sirkulasi yang relatif sempit pada Museum Sumpah Pemuda. Hal ini agak membahayakan bagi keberadaan peraga maupun koleksi. Terkait dalam hal ini adalah area-area untuk orientasi pengunjung yang memakan area pamer sehingga dapat membahayakan peraga serta tidak nyaman bagi rombongan.

Pada lantai atas Museum Perumusan Naskah Proklamasi terdapat beberapa kamar mandi yang dibiarkan terbuka, karena merupakan ruangan asli sejak masa peristiwa terjadi. Hal ini memang menimbulkan rasa penasaran pada responden, namun dirasa tidak relevan dengan keseluruhan penceritaan pada area tersebut, mengingat area tersebut bukan menjelaskan mengenai interior kediaman Maeda.

Pada umumnya setiap ruang memiliki daya tarik berupa objek tiga dimensional, baik itu diorama besar dan kecil, maupun vitrin berisi koleksi. Namun demikian pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi, tepatnya tata pamer lantai atas, terdapat pula ruang yang hanya berisi panel-panel informasi saja, sehingga dapat dikatakan kurang menarik. Dalam hal ini, patung dada dapat dianggap objek tiga dimensional, namun karena cenderung tidak berwarna maka cenderung diabaikan. Apabila ingin menampilkan patung dada maka perlu diadakan upaya-upaya penekanan, baik melalui pengaturan posisi yang tepat, pencahayaan atapun penyajian warna latar belakang yang kontras. Penerapan warna pada panel informasi membuatnya tampil menonjol walaupun hanya bersifat dua dimensional. Kebutuhan akan stimulasi pada setiap area pamer tersebut berkaitan dengan kecenderungan Exhibit Fatigue, (Dean, 1996: 52) yaitu kondisi kelelahan yang dapat dialami pengunjung akibat stimulasi berlebih pada fisik dan mental yang tercipta pada kunjungan pameran. Dengan demikian ketika tata pamer menjadi cenderung monoton maka pengunjung akan mulai berkurang antusiasme kunjungannya. Oleh karena itu setiap ruang harus selalu memiliki daya tarik agar pengunjung terus merasa antusias hingga tata pamer berakhir.

Pemasangan panel informasi, terutama pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi lantai atas masih ada yang tercerai berai dalam panel besar dan kecil sehingga kurang efisien dan membuat pengunjung kurang fokus dalam menangkap informasi. Pada kedua museum masih terdapat panel-panel informasi yang tertutup oleh patung, daun pintu maupun daun jendela.

Ruang istirahat atau ruang tunggu yang terletak di akhir kunjungan dapat dimanfaatkan sebagai penegas pesan-pesan nilai perjuangan. Pada Ruang Perenungan Museum Sumpah Pemuda ruangan ditata dengan pesan-pesan kutipan dari para tokoh perjuangan sehingga terdapat suasana kontemplatif sehingga cukup berkesan bagi responden. Pada Museum Perumusan Naskah proklamasi ruang tunggu ditata dengan poster-poster masa perjuangan yang cukup menarik bagi responden, namun sayangnya tanpa penjelasan yang bermakna dan digantung terlalu tinggi, sehingga hanya menjadi penghias ruang.

Tata cahaya  dan penghawaan alami memang merupakan suatu bentuk penghematan energi, namun bagi museum hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada koleksi, cepat pudarnya panel informasi, dan efek tata pamer yang telah direncanakan menjadi kurang berfungsi. Hawa panas juga mengakibatkan ketidaknyamanan bagi pengunjung. Hal ini terjadi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Namun demikian pada ruang makan dengan tata pamer Sukarno, Hatta dan A. Subardjo yang sedang merumuskan naskah Proklamasi, dimana tata cahaya berfungsi dengan baik, mampu memberikan penekanan dan pemahaman yang sangat baik bagi responden. Hal ini sesuai dengan kecenderungan prilaku Photophilic, seperti penjelasan David Dean (Dean, 1996: 52), bahwa pengunjung pameran cenderung yang memberikan respon positif terhadap iluminasi yang lebih baik.

6. Teknik Peragaan dan Penyajian Koleksi untuk Mendukung Penceritaan

Dalam penyajian tata pamerkedua museum menyajikan koleksi, baik original maupun replika. Koleksi merupakan hal yang mendapat perhatian lebih dari para responden menyangkut nilainya sebagai saksi sejarah dan keantikannya yang merupakan gambaran dari masanya. Hal ini memicu rasa ingin tahu yang besar, karena koleksi tersebut menimbulkan berbagai imajinasi kepada responden, terutama tentang masa-masa di mana peristiwa terjadi. Namun demikian, pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi terdapat koleksi yang penjelasannya kurang sehingga kurang dapat dipahami dan bahkan dapat menimbulkan salah paham. Dengan demikian koleksi tersebut menjadi kurang berkesan.

Peragaan diorama besar dengan manekin ukuran sebenarnya. Untuk Museum Sumpah Pemuda terdapat diorama kecil. Berdasarkan pendapat responden yang mengunjungi kedua museum diorama besar adalah yang paling menarik diantara semua peragaan dalam museum. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh David Dean (Dean, 2005: 52) bahwa terdapat kecenderungan Megaphilic pada pengunjung museum, dimana  ukuran yang besar cenderung merangsang secara visual. Manusia memberikan reaksi pertama kepada objek yang lebih besar ketika mereka memasuki suatu ruang. Selain itu, dijelaskan oleh Miles (Miles, 1982:70) bahwa hal ini sesuai dengan penekanan (emphasize) secara ukuran. Bahwa ukuran objek yang lebih besar dibanding objek-objek lainnya akan membuat suatu objek dipandang lebih penting.

Pada kedua museum terdapat beberapa patung dada untuk memperkenalkan para tokoh. Namun demikian keberadaan patung-patung dada ini tampaknya kurang mendapat perhatian responden. Diperkirakan bahwa hal ini disebabkan karena patung dada memiliki warna yang kurang menonjol dan pada kedua museum tersebut kebanyakan kurang didukung oleh pencahayaan yang sesuai sehingga profil wajah patung dada tersebut kurang muncul. Terkait permasalahan ini Miles (Miles, 1982:70) berpendapat bahwa suatu penekanan dapat diperoleh juga melalui warna, terutama warna yang kontras baik dengan objek-objek lainnya ataupun dengan latar belakangnya. Sementara itu patung dada tersebut kurang kontras terhadap objek-objek lain maupun terhadap latar belakangnya. Bahkan terdapat patung dada yang letaknya terjepit oleh daun jendela yang terbuka. Mengenai cahaya Miles berpendapat bahwa pengaturan cahaya secara tepat mampu mengekpresikan bentuk, tekstur maupun warna secara lebih baik, serta dapat memberikan penekanan pada display tertentu. Hal ini sesuai dengan kecenderungan Photophilic (Dean, 2005: 52) bahwa manusia secara naluri cenderung mendekati tempat yang terang. Oleh karena patung dada cenderung satu warna dan secara visual lebih mengangkat olahan teksturnya maka pencahayaan yang sesuai akan dapat memberikan daya tarik. Permasalahan lainnya adalah peletakan yang tidak sesuai dengan narasi mengenai tokoh tersebut, sehingga memecah konsentrasi pemahaman pengunjung akan sosok yang digambarkan pada patung dengan keseluruhan penceritaannya.

7. Panel Informasi yang mendukung Penceritaan

Terdapat pula panel informasi untuk membantu pemahaman pengunjung secara lebih lengkap.Walaupun hampir semua responden menyatakan bahwa panel informasi tersebut menarik, terdapat perbedaan dalam pemahaman menyangkut isi teks. Pada Museum Sumpah Pemuda panel informasi cenderung dikelompokkan dalam panel-panel berukuran besar, namun demikian memiliki informasi yang terlalu padat teks sehingga kebanyakan responden kurang memiliki kesabaran untuk membaca hingga selesai, sehingga banyak informasi tidak tersampaikan. Sementara itu pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi, tata pamer lantai bawah panel informasinya sangat mudah dipahami karena tidak terlalu panjang teksnya dan diberi ilustrasi tunggal sehingga lebih fokus dalam menyampaikan informasi. Tata pamer lantai atas memiliki panel informasi yang lebih tercerai berai dalam panel besar dan kecil, sayangnya beberapa panel tertutup oleh patung dada. Informasi yang disampaikan juga cukup banyak, namun dengan panel informasi yang tidak terlalu padat dan menerapkan huruf berukuran besar pada judul, beberapa panel informasinya dapat segera dipahami oleh responden.

Hal ini sesuai dengan pendapat David Dean (Dean, 2005: 52) bahwa terdapat kecenderungan pada pengunjung museum untuk lebih sering membaca huruf yang  berukuran besar. Huruf yang lebih besar dan boldakan lebih menarik perhatian. Sebaliknya, area dengan teks yang hurufnya lebih kecil  akan terlihat sulit, terlalu teknis dan biasanya dilewati begitu saja. Menggunakan huruf besar dan judul-judul dapat membuat informasi dasar seperti tema, subtema dan topik dapat segera tersampaikan. Judul biasanya secara visual lebih menarik daripada bodytext dan lebih sering dibaca.

Dalam perancangan panel informasi untuk tata pamer perlu memperhatikan aspek legibility yang berhubungan dengan kejelasan dari suatu huruf maupun karakter baik secara individu maupun dalam suatu penataan kata maupun kalimat. Selain itu, perlu pula memperhatikan aspek readability yang berkaitan dengan kemudahan teks untuk dibaca dan dipahami. Kedua aspek ini (Locker, 2011:114) berhubungan dengan jenis, warna, dan ukuran huruf, panjang baris kalimat, spasi di antara huruf maupun baris kalimat.

Secara umum, suatu panel informasi akan dibaca dari jarak 60-90 cm. Demikian pula dengan panel pada kedua museum. Pada ruang tertentu bahkan dapat dibaca dalam jarak yang lebih dekat yaitu 30-60 cm, karena keterbatasan luas ruang. Untuk ukuran huruf tampaknya tidak menjadi kesulitan bagi para responden untuk membacanya karena kedua museum menerapkan ukuran huruf yang sesuai dengan standar jarak baca seperti di atas, yaitu antara 18-36 pt (Locker,2011: 114). Sementara pada umumnya ukuran huruf yang digunakan pada panel informasi kedua museum yaitu 36-48 pt. Bahkan untuk judul menggunakan ukuran yang lebih besar.

Kesulitan yang dialami pengunjung tampaknya adalah mengenai jumlah kata maksimal pada satu baris ataupun jumlah keseluruhan kata dalam suatu kelompok teks. Jumlah kata yang relatif mudah dibaca dan segera dipahami yaitu 10 kata atau 66 karakter per baris (Locker, 2011: 114) dan kelompok teks berjumlah 75-150 kata (Dean, 1996:113) per kelompok kata. Namun demikian pada kedua museum, walaupun tidak semua, masih terdapat panel-panel yang melebihi standar tersebut.

Gambar 7. Panel yang teksnya terlalu padat dan rapat

Pemilihan warna huruf umumnya bergantung pada warna latar belakang panel. Karena panel bersifat warna, maka kebanyakan menerapkan warna putih. Untuk panel yang berwarna putih, yaitu pada tata pamer lantai bawah Museum Perumusan Naskah Proklamasi menggunakan warna hitam, sehingga cukup terdapat kontras. Sementara itu pemilihan jenis font yang tanpa kait (san serif) membuat panel pada kedua museum dapat terbaca dengan lebih jelas.

Pewarnaan pada panel informasi memberikan fokus bagi para pengunjung karena kontras dengan warna keseluruhan dinding dan ruang yang cenderung natural.Oleh karena itu, bagi sebagian besar responden panel informasi dikatakan menarik. Hal ini sesuai dengan kecenderungan pengunjung museum yang diutarakan Dean, yaitu Chromaphilic behavior, ketika warna cerah mampu membuat kebanyakan orang terstimulasi secara visual. Umumnya pengunjung secara refleks mengarahkan pandangan pada objek maupun area berwarna cerah.

Sementara itu, ketinggian panel pada kedua museum tampaknya masih sesuai dengan standar ketinggian pembaca (Locker, 2011: 120), yaitu antara 70-180 cm. Hal ini dikecualikan untuk prasasti hasil Kongres Pemuda II, Teks lagu Indonesia Raya dan Undangan Kongres Pemuda II pada ruang Kongres Pemuda II di Museum Sumpah Pemuda, yang dibuat sangat besar hingga mencapai langit-langit, namun dengan luas ruangan yang sebanding, teks masih dapat dibaca dari jarak sekitar 3 meter.

Keseluruhan hasil observasi fisik tata pamer dan wawancara responden tersebut dapat dijelaskan dalam table berikut ini.

MUSEUM SUMPAH PEMUDA

MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI

Komponen Narasi

Tata Pamer

Pemahaman Responden

Tata Pamer

Pemahaman Responden

Alur

Sinkronik dengan urutan sesuai dengan peristiwa

Secara keseluruhan dapat dipahami tapi terdapat detail-detail dan urutan yang masih terlupakan

Sinkronik dengan urutan sesuai dengan peristiwa

Secara keseluruhan dapat dipahami tapi terdapat detail-detail dan urutan yang masih terlupakan

Awal tata pamer adalah ruang pengenalan, dengan alur puncak dihasilkannya Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda II, diakhiri dengan Ruang Perenungan

Alur awal dan puncak dapat dipahami sebagian besar responden, tapi pemahaman setelah puncak peristiwa relatif kurang.

Awal tata pamer adalah ruang tamu, dengan alur puncak diterimanya Naskah Proklamasi secara aklamasi, yang diakhiri dengan tata pamer lantai atas yang menceritakan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda

Alur awal dapat dipahami secara jelas, namun alur puncak kurang dipahami, demikian pula dengan alur akhir di lantai atas kurang dipahami. Secara garis besar alur di lantai atas dapat dipahami.

Penyajian peristiwa-peristiwa yang mendapat penekanan ditampilkan dalam diorama besar dan kecil, sementara secara detail dijelaskan dalam panel informasi

Diorama besar mendapatkan perhatian lebih dari para responden.

Panel informasi walaupun dipandang menarik, namun informasi kurang sampai karena panel terlalu padat dan teks memiliki kerapatan cukup tinggi

Penyajian peristiwa-peristiwa yang mendapat penekanan ditampilkan dalam diorama besar, sementara secara detail dijelaskan dalam panel informasi

Diorama besar mendapatkan perhatian lebih dari para responden. Namun demikian tidak terdapat penekanan pada klimaks peristiwa sehingga tidak dipahami responden

Panel informasi pada lantai atas cukup banyak, namun dengan teks yang tidak terlalu padat terdapat hal-hal yang dapat diingat oleh responden

Penokohan

Penokohan lebih untuk menunjang penceritaan peristiwa.

Tokoh penting :

M. Yamin, Tabrani, Sugondo, WR. Supratman, Sunaryo, dll

Beberapa tokoh menjadi lebih dikenal, seperti M. Yamin dan W. R. Supratman. Namun demikian banyak tokoh penting lain seperti Tabrani dan Sugondo hanya dapat dikenali sebagian kecil responden.

Penokohan lebih untuk menunjang penceritaan peristiwa.

Tokoh penting :

Sukarno, Hatta, A. Subardjo, S. Melik, BM Diah, I Gusti Ktut Puja, Chaerul Saleh, Sukarni,dll

Beberapa tokoh menjadi lebih dikenal, seperti Ahmad Subardjo, Sayuti Melik.

Penonjolan tokoh dengan patung dada

Kurang menarik

Penonjolan tokoh dengan patung dada

Kurang menarik

Penonjolan tokoh dengan koleksi (memorabilia)

Berhasil dalam mengangkat peranan W.R. Supratman dengan memorabilia biolanya

Penonjolan tokoh dengan koleksi (memorabilia)

Kurang dapat dipahami, terlebih penyajian koleksi yang tanpa penggambaran figure tokoh

Protagonis VS Antagonis lebih ditampilkan secara netral dengan menyeleksi hal-hal yang sesuai dengan tujuan cerita

Para pemuda sebagai tokoh utama dapat dipahami sebagian besar responden, namun beratnya perjuangan mereka cenderung kurang dipahami

Protagonis VS Antagonis lebih ditampilkan secara netral dengan menyeleksi hal-hal yang sesuai dengan tujuan cerita

Dengan manekin besar yang menonjol dan , peranan Sukarno-didukung pencahayaan yang menyorot, Hatta-Subardjo dapat dpahami sebagian besar responden. Demikian pula dengan Sayuti Melik.

Sebaliknya, sekalipun kebanyakan responden mengetahui bahwa rumah yang digunakan pada peristiwa tersebut adalah kediaman Laks. Maeda, namun karena penokohannya tidak ditonjolkan maka tidak disadari sebagai tokoh dalam peristiwa tersebut.

Latar Waktu & Tempat

Pemilihan furniture dan benda-benda, serta arsitektur yang mempertahankan bentuk aslinya mampu mengangkat latar tempat .

Situasi latar sesuai waktu ketika peristiwa terjadi dapat dirasakan oleh para responden

Pemilihan furniture dan benda-benda, serta arsitektur yang mempertahankan bentuk aslinya untuk mengangkat latar tempat .

Situasi latar sesuai waktu ketika peristiwa terjadi dapat dirasakan oleh para responden

Koleksi mampu mendukung penghayatan akan peristiwa dan masa lalu

Koleksi dapat dipahami sebagai memiliki nilai sejarah dan merupakan cerminan dari masanya.

Koleksi dapat mendukung pemahaman akan peristiwa dan masa lalu

Koleksi tidak perlu harus otentik. Replika pun dapat memberikan efek yang serupa dengan penyajian koleksi original.

Suasana malam-dini hari diciptakan dengan kondisi ruang yang remang dan pencahayaan yang sesuai

Suasana dapat dihayati secara lebih mendalam oleh para responden

Pesan nilai perjuangan

Pesan perjuangan yang perlu dipahami antara lain:

  • Persatuan untuk mengatasi perbedaan
  • Penghargaan terhadap peran para pemuda pejuang
  • Tanggung jawab sebagai pemuda dalam mengisi kemerdekaan

Pesan nilai perjuangan para pemuda sebagian dipahami, namun karena perjuangan para pemuda dalam mengatasi tantangan kurang tampak, maka nilai kepahlawanan pemuda tersebut kurang dapat dihayati

Pesan perjuangan yang perlu dipahami antara lain:

  • Kemerdekaan yang telah dicapai dengan titik darah penghabisan perlu dihargai oleh generasi masa kini yang harus mengisi kemerdekaan dan tetap tegar menjaga kemerdekaan Indonesia
  • Jangan melupakan peranan para pejuang dalam merebut kemerdekaan ini.
  • Dalam perjuangan perlu mejalankan musyawarah dalam mencapai kemufakatan

Pesan nilai perjuangan para pejuang sebagian besar dapat dipahami responden. Hal ini dapat dicapai dengan memahami kerumitan yang terjadi pada saat perumusan Naskah Proklamasi (tata pamer lt. bawah) serta usaha-usaha yang ditempuh dalam mempertahankan kemerdekaan, baik melalui pertempuran maupun perundingan (tata pamer lt. atas)

Penyajian koleksi kepanduan dan Indonesia Raya

Penyajian tata pamer yang berkaitan dengan kekinian responden menimbulkan ketertarikan

Tabel 3.  Hasil Observasi fisik Tata Pamer dan Wawancara Responden

Kesimpulan

Tata pameran tetap pada Museum Sumpah Pemuda dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yaitu berupa koleksi dan peragaan, tata letak, storyline dan alur kunjungan, penataannya dikaitkan dengan narasi dan penceritaan peristiwa berkaitan dengan materi museum, yang ditampilkan dalam bentuk penokohan, plot, latar tempat, waktu, serta pesan moral.

Selain penataan yang berdasarkan storyline pada peristiwa sejarah, tata pamer juga mempertimbangkan ketersediaan koleksi, yang dibantu dengan peragaan dan penunjangnya, seperti panel informasi, diorama, baik berukuran besar maupun kecil, multimedia, patung dada, vitrin, serta obyek-obyek yang merupakan replika dari masanya seperti mebel, ataupun benda-benda lainnya. Pertimbangan lain dalam penataan adalah kondisi fisik dan arsitektur bangunan museum, yang merupakan tempat terjadinya peristiwa.

Dalam observasi terhadap responden yang mengunjungi kedua museum tersebut diperoleh masukan bahwa :

  • Alur dalam narasi dari kedua museum, baik alur inti maupun subplot, secara garis besar dapat dipahami, karena menggunakan pendekatan yang paling sederhana yaitu alur maju, yang sesuai urutan kejadian. Namun demikian terdapat bagian-bagian yang sering terlewat, karena tata pamer pada peristiwa klimaks kurang diberikan penegasan, adanya informasi dan peragaan yang kaitannya kurang dipahami, serta ketiadaan penamaan ruang.
  • Penokohan dalam narasi dari kedua museum cenderung agak lemah untuk dipahami, walaupun hal ini tampaknya merupakan pilihan dari pihak pengelola maupun museum yang lebih menitikberatkan narasi pada aspek peristiwa. Kelemahan terdapat pada tampilan diorama yang tidak diberi keterangan tentang siapa tokoh yang patungnya ditampilkan, memorabilia tanpa menampilkan tokohnya secara jelas, patung dada yang kurang disadari keberadaannya, serta peranan tokoh yang hanya disebutkan dalam panel informasi. Walaupun demikian terdapat keberhasilan dalam menampilkan beberapa tokoh yaitu dengan menyajikan diorama besar, yang diberi keterangan identitas yang jelas, sehingga tokoh yang semula kurang disadari, setelah kunjungan dapat diingat oleh sebagian besar responden.
  • Latar waktu dan tempat dalam narasi kedua museum dapat dipahami oleh sebagian besar responden. Konsistensi dalam mempertahankan arsitektur bangunan sesuai masanya serta penyajian mebel dan benda-benda yang sesuai masanya tampaknya berhasil membawa responden pada pemahaman situasi masa lalu. Tampilan manekin dengan atribut dari masa terjadinya peristiwa turut memberikan kesan kuat tentang masa serta peristiwanya. Koleksi yang sesuai juga berhasil membawa responden pada imajinasi tentang situasi yang dihadapi para tokoh pada masa itu. Namun demikian terdapat koleksi yang kurang dapat dipahami karena kurangnya informasi ataupun malah membuat timbulnya salah persepsi tentang masanya, mengingat bahwa objek-objek di masa lalu mungkin di masa kini telah punah sehingga tidak dipahami oleh pengunjung masa kini. Tata cahaya yang baik mampu memberikan fokus dan penekanan yang menambah pemahaman akan suasana waktu, tempat maupun peristiwa.
  • Pesan nilai perjuangan yang memiliki narasi kuat tentang kesulitan yang dihadapi dan bagaimana kegigihan para tokoh dalam mengatasi segala kesulitan tersebut lebih dapat dipahami. Dengan demikian aspek perjuangan yang dialami para tokoh protagonis, yaitu para pejuang, ketika melawan tokoh antagonis, yaitu para penjajah, dapat dihayati secara lebih kuat oleh pengunjung. Hal ini ditemukan pada Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Sementara pada Museum Sumpah Pemuda walaupun sebagian responden mampu memahami kekuatan persatuan, namun pesan nilai perjuangan yang dipahami lebih berkaitan dengan kekinian identitas mereka sebagai pemuda, daripada penghargaan atas perjuangan yang dilakukan para pemuda pada peristiwa Sumpah Pemuda.

DAFTAR PUSTAKA DAN LITERATUR PENUNJANG

Akbar, Ali. 2010. Museum di Indonesia: Kendala dan Harapan. Jakarta: IKAPI
Ambrose, Timothy; Paine, Crispin. 2006. Museum Basics. London: Routledge
Bruner, Jerome. 1986. Actual Minds, Possible Worlds. Cambridge: Harvard University Press
Bruner, Jerome. 1991. The Narrative Construction of Reality. Critical Inquiry Vol. 18No.1
Creswell, John W.,  2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta
Dean, David. 2005. Museum Exhibition: Theory and Practice. London: Routledge
Gergen, Kenneth; Gergen, Mary. 1988. Narrative and The Self as Relationship. Advances in Experimental Social Psychology Vol. 21. San Diego: Academic Press Inc.
Keraf, Gorys. 1982. Argumentasi dan Narasi.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Locker, Pam. 2011. Basic Interior Design 02: Exhibition Design. Switzerland: Ava Publishing
Macdonald, Sharon (ed). 2006. A Companion to Museum Studies. UK: Blackwell Publishing
MacLeod, Suzanne (ed). 2005. Reshaping Museum Space: Architecture, Design, Exhibitions. London: Routledge
MacLeod, Suzanne et al (ed). 2012. Museum Making: Narratives, Architectures, Exhibitions.London: Routledge
Miles, R.A (ed) 1982. The Design of Educational Exhibits. London: George Allen & Unwin
Notosusanto, Nugroho; Poesponegoro, Marwati D. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka
Notosusanto, Nugroho; Poesponegoro, Marwati D. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI : Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Saidi, Acep Iwan. 2008. Narasi Simbolik Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Yogyakarta: Isacbook
Steele, James. 1994. Museum Builders. London: Ernst & Sohn
Sutaarga, Moh. 1957. ‘Tugas Museum di Indonesia’ Bahasa dan Budaya, Oktober 1957, no.1 Th. VI halaman 3-14. Jakarta
Sutaarga, Moh. —-. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman Jakarta
Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Tim Penyusun. Penyajian Koleksi.Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud

———————. (1988). Kecil tetapi Indah: Pedoman Pendirian Museum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

———————. (1984). Pedoman Pelaksanaan Teknis Proyek-proyek Pengembangan Permuseuman di Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman Jakarta
Younghans, Sherry B. 1996. Historic House Museums: A Practical Handbook for Their Care, Preservation and Management. NY: Oxford University Press
http://icom.museum/the-vision/museum-definition/
www.museumsumpahpemuda.go.id
www.museumindonesia.com

Abstrak – Menatap Iklan Reebok “Easytone – Reetone” – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ 2017

Oleh Indah Tjahjawulan
indahtja@gmail.com | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak

Iklan adalah sebuah objek, dan kita adalah subjek yang menatap kepada objek tersebut.  Namun, “menatap” bukanlah sekadar menatap karena pada saat “menatap” iklan, ada sebuah medan tatapan yang berhubungan dengan kode penyampaian iklan itu sendiri yang mempunyai beberapa tingkatan (level).  Tulisan ini membahas tentang level  medan tatapan dalam iklan dengan contoh kasus iklan Rebook seri Easytone dan Reetone. Dari pembacaan iklan tersebut ditemukan bahwa level pertama “menatap” adalah melihat realita, yaitu subjek hanya melihat imaji (gambar) yang ada pada iklan tersebut. Level kedua adalah melihat apa yang direpresentasikan oleh semua realita tersebut. Siapa saja yang melihat iklan tersebut, dengan bebas dapat menerjemahkan sesuai intepretasi masing-masing. Sedangkan level ketiga berkaitan dengan kekuasaan atau ideologi tertentu yang melatarbelakangi realita dan representasi tersebut. Pada akhirnya “menatap” iklan dapat berperan lebih jauh dari sekedar dapat terpengaruh oleh rayuan untuk membeli produk yang diiklankan, tetapi  juga  membentuk abnormalitas seksual di kalangan wanita untuk menikmati sensualitas dan pamer keindahan tubuh yang palsu hasil konstruksi media.

Kata Kunci: iklan, medan tatapan, obyek , subyek.

Abstract

Advertisement is an object and we are the subjects who look at the object. However, “to gaze at” doesn’t just mean to look at. When we “gaze at” the advertisement, there is a depth of field relating to the code of delivering the advertisement that has various levels. This article discusses the level of depth of field in the advertisement of Rebook of Easytone and Reetone series. Based on the reading of the advertisement, it is revealed that the first level of “to look at” is to gaze at the reality, which is the subject only look at the image (picture) presented in the advertisement. The second level is to look at what is represented by the whole reality. Whoever looks at the advertisement can freely translate it according to their respective interpretation. For the third level, it is related to the power or particular ideology serving as the background of the reality and the representation. Ultimately “to gaze at” an advertisement can play a further role and not just merely an influence caused by a persuasion to buy the product being advertised, but to create a sexual abnormality among women to enjoy sensuality and the exhibition of the beauty of fake body as the result of a media construction.

Keywords: advertorial, gaze, object , subject

Abstrak – Pemaknaan Garuda Pancasila melalui T- Shirt “Hiduplah Indonesia Raya” – Jurnal Seni Rupa Warna Maret 2017

Oleh: Rasuardie
ardie13@gmail.com | Institut Kesenian Jakarta

Abstrak

Kebudayaan Populer sangat dinamis sehingga mampu memberikan anak muda ruang untuk berekspresi dan berapresiasi tentang hal-hal baru, tak terkecuali dalam memproduksi identitas, termasuk di dalamnya memproduksi identitas nasionalismenya. Garuda Pancasila sebagai lambang negara yang dilindungi oleh undang-undang dan aturan pemerintah dipertarungkan dengan ide-ide anak muda yang butuh mengekspresikan identitas nasionalismenya. Garuda Pancasila dimaknai ulang sesuai dengan kebutuhan mereka akan identitas nasionalisme melalui tema-tema kebudayaan populer anak muda. Makna baru Garuda Pancasila ini mungkin beredar di sekitar dunia mereka saja tetapi tidak menutup kemungkinan bisa diterima dan diapresiasi secara baik oleh masyarakat luas. Penelitian yang dilakukan melalui metode kualitatif deskriptif dengan obyek penelitian adalah t-shirt yang diproduksi oleh kolektif “Hiduplah Indonesia Raya”, sebuah kolektif anak muda yang bergerak dari kecintaannya terhadap Indonesia yang kemudian berani memproduksi identitas ke-Indonesiaan-nya melalui pemaknaan baru terhadap Garuda Pancasila melalui media t-shirt bergrafis. Penelitian ini bermaksud menguraikan ide-ide yang melatarbelakangi anak muda Indonesia dalam memproduksi identitas keIndonesiaannya melalui pemaknaan ulang Garuda Pancasila dan upaya yang dilakukan oleh mereka dalam mendistribusikan ‘ide’ identitas Indonesia kontemporer untuk tetap menjaga rasa dan jiwa nasionalisme dikalangan mereka sendiri juga masyarakat di sekitar mereka. Penelitian ini menemukan bahwa anak muda Indonesia dengan semangat kecintaan akan tanah air dan kebutuhannya akan identitas terkini melalui media popular t-shirt mampu menjadi sebuah media ekspresi yang menyebar dan diterima secara positif bahkan didukung oleh lingkungan sekitarnya.

Kata kunci: Anak muda, Garuda Pancasila, identitas, kebudayaan populer, T-shirt

Abstract

Popular culture is so dynamic that it has the ability to provide space for the youths to show their expression and appreciation on new things, including in producing identity, i.e. identity of their nationalism. Garuda Pancasila as the state’s symbol protected by the law and government regulations is challenged by the ideas coming from the youths who need to express their identity of nationalism. Garuda Pancasila is redefined according to their needs on their identity of nationalism through the themes of the popular culture of the youths. New meaning of Garuda Pancasila is probably only known among the youths and their world but it has actually the possibility to be well accepted and appreciated by wider community.
This research uses descriptive qualitative method with t-shirt that is produced by a community named “Hiduplah Indonesia Raya”, a youth community that is moved by their love for Indonesia. This community is courageously enough to produce their Indonesian identity by means of giving a new meaning to Garuda Pancasila in t-shirts with graphic designs. This research is to break down ideas that have moved the youths to produce their Indonesian identity through redefinition of Garuda Pancasila and their efforts in spreading the idea of contemporary Indonesian identity to maintain the sense and spirit of nationalism among the youths themselves along with those surrounding them.
This research reveals that Indonesian youths with their love for their country and their need of an updated identity using popular media such as t-shirt are able to turn t-shirt into a medium of expression that positively accepted and even supported by the surroundings.

Keywords: youths, Garuda Pancasila, identity, popular culture, T-shirt

Abstrak – Proses Kreatif Konsep Penciptaan Bentuk (Studi Kasus: Kemben, Pakaian Adat Perempuan Jawa, Penari Jawa) – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Lucky Wijayanti
luckyblueandwhite@yahoo.co.id | Institut Seni Yogyakarta

Setiawan Sabana
setiawansabana@yahoo.com | Institut Teknologi Bandung

 

Abstrak

Proses penciptaan seni terbentuk dari hubungan antara gagasan penciptaan dengan konsep berkarya yang dilakukan oleh se­tiap seniman dengan cara pandang yang berbeda. Dari penelitian yang dilakukan melalui metode observasi terhadap kegiatan para perempuan yang bekerja sebagai pembuat batik, penari, penganyam, dan penenun di wilayah pulau Jawa, seperti: Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta, dapat dirumuskan konsep penciptaan bentuk (karya) yang mencakup tiga aspek pokok, yaitu: 1) Tematik, konsep subject matter, dalam bidang seni visual, baik itu tema yang bersifat religius, sosial, urban dan lain sebagainya materi subyeknya selalu berubah sesuai dengan maksud dari seniman untuk mengkomunikasikan sesuatu pengalaman yang spesifik melalui karya baru atau representasi yang abstrak; 2) Visual, konsep proses kreatif dalam perwujudan karya yang divisualkan melalui figur-figur sebagai representasi seni rupa, misalnya melalui media film dokumenter dan foto; 3) Media, konsep eksplorasi media dan teknik untuk mewujudan karya, dengan menggabungkan material temuan (found object) yang berasal dari lokasi penelitian dengan media lainnya yang dapat memperkaya suatu karya dan dapat mewakili visual setempat.

Kata kunci : penciptaan, seni, subject matter, bentuk.

Abstract

The art creation process is constructed by the relation between ideas and the concept of creation of artists based on different point of view. From the research that uses observation method and focuses on the activities of the working women as batik makers, dancers, and weavers in areas in Java such as Cirebon, Pekalongan, Solo and Yogyakarta, it can be formulated one concept of creation that involves three aspects which are: 1) thematic, the concept of subject matter, in visual art, for themes like religious, social, urban matter, the materials of the subjects always change according to the purpose of the artists in communicating a specific experience through a new piece of work or an abstract representation; 2) Visual, the concept of creative process in the manifestation of work which is visualized using figures as representation of fine art, for example by means of documentary film and photos; 3) Media, the concept of exploration of media and the technique to materialize art works, by combining the materials of the objects found in the research locations with other media that can enrich an art work and can represent local visual.
Keywords : creation, art, subject matter, form.

Abstrak – Masculinity of Women in RED Cobex, a Comedy Genre – Jurnal Seni Rupa Warna IKJ Maret 2017

Oleh: Lala Palupi Santyaputri
lala.santyaputri@uph.edu I Universitas Pelita Harapan

Abstrak

Visualisasi dalam film memiliki pengaruh besar dalam pikiran penonton. Penonton film secara tidak sadar membentuk persepsi tertentu terhadap gambaran pokok dalam konstruksi gender. Dalam hal ini gambaran yang akan diteliti dalam film ini adalah perbedaan visualisasi perempuan dalam sinema dengan genre komedi khususnya maskulinitas perempuan dalam film “Red Cobex” yang diproduksi pada tahun 2010. Konstruksi visual tertentu akan menciptakan makna pada pikiran audiens akan membuat konstruksi stereotype tertentu atas gender. Metode penelitian yang digunakan adalah analisa konten sebagai model untuk menjabarkan perbedaan visualisasi gender yang mempengaruhi persepsi audiens.

Kata Kunci : komedi, maskulinitas, perempuan, sinema.

 

Abstract

Visualization in film has great influence in the audience’s mind. In this case the cinema viewers who regularly watch a comedy genre unconsciously form a certain perception of an underlying description in gender construction. The description in this particular movie that will be examined is the visualization of gender differences in comedy, especially masculinity on women on Red Cobex the movie produced in 2010. A particular visual construction will create meaning in the audience’ mind on certain stereotype over gender issue. Using deductive content analysis the visualization of women that affect the perception of the audience is broken down.

Keyword : cinema, comedy, masculinity, women.

 

Abstrak – Studi Skema Warna Berdasarkan Lokal Konten Budaya Kota – Jurnal Seni Rupa Warna 2017

Oleh:

Jonata Witabora
jowitabora@binus.edu I Universitas Pelita Harapan

Kadek Satria Adidharma
satria23@gmail.com I Universitas Bina Nusantara

Meilani
meilani.dkv@binus.edu I Universitas Bina Nusantara

Anastasia Ari Respati
tasyaari@gmail.com I Universitas Bina Nusantara

 

Abstrak

Desain Komunikasi Visual merupakan ilmu yang terus bertumbuh. Ia bergeliat dan berinteraksi dengan disiplin lain untuk merespons zaman yang terus berubah, yang kemudian memberi bentuk baru. Kebaruan menjadi sesuatu yang tak terhindari. Ia telah menjadi bagian dari globalisasi yang tak terbendung. Hal ini perlu disikapi dengan cermat, agar ilmu tersebut tidak memangkas budaya yang sudah ada. Ia perlu diseimbangi agar menjadi kaya dan tumbuh berkembang bersama dengan budaya yang sudah ada. Kebudayaan tidak lagi hanya diwakili oleh tradisi atau seni-seni klasik. Agar ia dapat terus hidup, ia harus berubah, membentuk pemaknaan baru yang segar dalam rangkaian budaya lokal sebagai kantong- kantong kecil yang pada akhirnya melestarikan dan memperkuat karakter budaya itu sendiri yang lekang oleh zaman. Penelitian ini diharapkan mampu menyumbang keilmuan baru dalam bidang pembelajaran warna yang terkait dengan kekuatan budaya lokal, yang membangun keilmuan desain itu sendiri sehingga pada akhirnya, dalam jangka waktu yang panjang diharapkan mendorong terbentuknya artefak-artefak desain yang memiliki karakter dan ciri kebudayaan yang kuat.

Kata kunci: Warna, Budaya Lokal, Desain

 

Abstract

Visual Communication Design is a growing discipline. It keeps on working and interacting with other discipline in order to respond the ever-changing era and it finally create a new form. Novelty has become something unavoidable. It has become part of the unstoppable globalization. This needs to be addressed cautiously so that this discipline will not put the existing culture at risk. Culture is not only represented by tradition or classical arts. In order to survive, it needs to change, to form a fresh, new meaning in the framework of local culture as small enclaves that finally will preserve and strengthen the character of the culture itself, which is always relevant to the era. This research is expected to contribute to new discipline in colour learning relating to the power of local culture that in turn will develop the discipline of design itself, and at the end of the day, in the long run, will encourage the creation of design artefacts with strong cultural character and characteristic.

Keywords: colour, local culture, design